BADUNG – balinusra.com | Berjalan tanpa alas kaki di atas tanah, pasir pantai, maupun rumput bukan sekadar aktivitas sederhana. Melalui praktik grounding, kegiatan ini menjadi salah satu cara efektif untuk mengajak masyarakat kembali menyatu dengan alam. Sekaligus membangun kesadaran terhadap kesehatan dan keseimbangan diri.
Pesan penting mengenai gaya hidup sehat ini mengemuka dalam acara Varash Fun Grounding 2026 yang digelar di Pantai Petitenget, Kerobokan, Badung, pada Minggu (8/11/2026). Sebanyak sekitar 4.000 peserta dari berbagai komunitas antusias mengikuti rangkaian acara yang menggabungkan aktivitas berjalan tanpa alas kaki, dengan edukasi mengenai hubungan manusia dan alam semesta.
Awal Mula Komunitas dan Saran Rutinitas 30 Menit Sehari
Owner Varash, I Putu Eka Suryawan mengatakan, praktik grounding awalnya diperkenalkan melalui komunitas kecil Varash. Anggota komunitas tersebut sebagian memiliki kendala kesehatan, baik fisik maupun mental.
“Sepulang dari sini, luangkan waktu setiap hari untuk melepas sandal dan berjalan di atas tanah, pasir, atau rumput. Mari kita kembali menyatu dengan alam,” kata Putu Eka.
Dari pengalaman komunitas Varash, kebiasaan berjalan tanpa alas kaki di atas permukaan tanah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari sebelum akhirnya diperkenalkan lebih luas.
Putu Eka menyarankan masyarakat untuk menyisihkan waktu sekitar 30 menit setiap hari untuk melakukan grounding di tanah, pasir, atau rumput sebagai bagian dari upaya membangun pola hidup sehat.
Menyelaraskan 4 Unsur Alam di Pantai Petitenget
Praktisi kesehatan sekaligus penulis buku, Dokter I Wayan Mustika, memaparkan bahwa kegiatan grounding merupakan momentum penting untuk menyelaraskan diri dengan unsur-unsur alam.
Ia mengibaratkan kawasan pantai sebagai titik pertemuan dari empat unsur alam:
- Pertiwi (pasir pantai)
- Apah (air laut)
- Teja (cahaya matahari)
- Bayu (udara yang dihirup)
Dalam kegiatan ini, peserta diajak meniatkan setiap langkah kaki telanjang sebagai simbol pelepasan energi negatif, emosi, dan pengalaman buruk yang dirasakan. Sebaliknya, paparan cahaya matahari dan udara segar menjadi sarana menyerap kembali energi positif dari alam.
“Air laut juga dimaknai sebagai sarana melukat atau membersihkan diri. Dengan demikian, grounding tidak sekadar dipandang sebagai aktivitas berjalan di atas pasir. Tetapi juga menjadi kesempatan melakukan refleksi dan penyelarasan diri,” jelas Dokter I Wayan Mustika.
Konsep Panca Mahabhuta: Menyatu dengan Mikrokosmos dan Makrokosmos
Founder Komunitas Yoga Tertawa, Kadek Siwa Ambara menegaskan, tubuh manusia merupakan bagian dari alam semesta yang tersusun atas lima unsur Panca Mahabhuta.
Ia merinci komposisi lima unsur tersebut dalam tubuh manusia:
- Pertiwi (Tanah – 12%): Mewakili tulang dan bagian tubuh padat, serta mengajarkan kasih sayang dan penerimaan.
- Apah (Air – 72%): Representasi dari cairan tubuh seperti darah, air kencing, air mata, dan cairan telinga yang menggambarkan ketenangan serta memberi kehidupan.
- Teja (Api – 4%): Berkaitan dengan suhu tubuh yang menjadi simbol semangat dan kekuatan.
- Bayu (Angin – 6%): Mewakili prana atau energi kehidupan.
- Akasa (Ruang/Kekosongan – 6%): Diaktifkan pada kesadaran dan ketenangan pikiran.
“Melalui kegiatan grounding ini, kita diajak menyatukan mikrokosmos dengan makrokosmos, atau buana alit dengan buana agung. Kita seolah-olah terlahir kembali, sebagaimana simbolisasi proses penyucian diri dalam tradisi melasti,” urai Kadek Siwa Ambara.
Catatan Penting untuk Gaya Hidup Sehat
Melalui pemahaman unsur alam tersebut, Varash Fun Grounding 2026 diharapkan mampu menumbuhkan kualitas positif serta mempererat ikatan manusia dengan alam.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa grounding lebih tepat ditempatkan sebagai aktivitas pendukung gaya hidup sehat dan refleksi diri. Bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis. Baiq





