DENPASAR – balinusra.com | Ketua DPC Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Denpasar, Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, menegaskan pentingnya menggali potensi ekspor dari komoditas lokal Bali. Ia menilai, banyak peluang bisnis luar negeri yang belum tersentuh dan bisa menjadi sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat Bali di luar sektor pariwisata.
Salah satunya adalah kebutuhan besar negara-negara seperti Australia dan Jepang terhadap produk pertanian Indonesia. “Australia membutuhkan cabai ratusan ton untuk pasokan restoran mereka. Sementara Jepang membutuhkan daun pisang,” ungkap Kaori dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) HIPPI Bali di Abisha Hotel, Sanur, Minggu (26/10/2025).
Ia mencontohkan, produk sederhana seperti daun pisang sebenarnya memiliki nilai tinggi di pasar luar negeri. “Di sini daun pisang harganya seribu per lembar, tapi kalau dijual ke Jepang bisa mencapai 100 yen. Itu lumayan besar,” ujarnya.
Kaori berharap HIPPI dapat menjadi wadah lahirnya ide-ide bisnis ekspor yang brilian, agar pengusaha Bali tidak hanya bertumpu pada industri pariwisata. “Mari ciptakan semangat baru di 2026. Kita kejar omset dolar, euro, bukan hanya rupiah. Dengan begitu kesejahteraan Bali dan Nusantara bisa meningkat,” serunya.
Selain cabai dan daun pisang, Kaori juga melihat peluang ekspor kopi Bali yang sangat besar di pasar internasional, termasuk Arab Saudi. “Kita punya kopi Robusta di Tabanan dan Singaraja, kopi Arabika di Kintamani dan Catur. Nilainya bisa ratusan miliar dari satu komunitas jika dikelola serius,” katanya.
Menurutnya, permintaan dunia terhadap coffee bean dan coffee powder organik terus meningkat. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha untuk aktif mencari informasi pasar dan membangun jejaring. “Caranya sederhana: rajin posting, rajin berbicara, rajin bertanya. Data dan peluang datang dari gerak kita sendiri,” ucapnya.
Kaori juga menyoroti komoditas rempah seperti jahe gajah dan bawang merah yang memiliki potensi ekspor ke Singapura. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kualitas. “PR kita adalah memastikan jahe gajah punya ukuran besar, bersih, tidak cepat busuk, dan aromanya khas. Kalau kualitasnya bagus, harga di Singapura bisa mencapai Rp95.000 per kilo,” jelasnya.
Ia mendorong kolaborasi antara pengusaha dan petani agar harga di tingkat produsen meningkat. “Kalau bisa kontrak langsung dengan petani, harga mereka naik. Biaya ekspor bisa ditekan lewat kerja sama dengan logistik dan UMKM yang peduli. Bahkan urusan pajak bisa kita sinergikan,” pungkasnya. Baiq





