CHANDI 2025 Resmi Dibuka, Menbud Fadli Tekankan Pentingnya Budaya

IMG-20250904-WA0001

Pembukaan Forum internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025, Rabu (3/9/2025) di The Meru, Sanur. Foto: Ist

 

DENPASAR – balinusra.com | Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menekankan bahwa budaya adalah alat pemersatu, yang nemiliki kekuatan tanpa dalam mempersatukan antar negara.

“Budaya menghubungkan manusia melalui kisah, nilai, dan ekspresi bersama yang mengingatkan kita akan kemanusiaan,” kata Menbud Fadli saat pembukaan Forum internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025, Rabu (3/9/2025) di The Meru, Sanur.

CHANDI 2025, dirancang sebagai platform global untuk memperkuat peran budaya dalam menjawab tantangan zaman. Melalui berbagai diskusi, forum kolaboratif, dan pameran, CHANDI 2025 bertujuan untuk memperkuat diplomasi budaya sebagai sarana membangun perdamaian dan pembangunan berkelanjutan, mendorong strategi inovatif untuk pelestarian dan pemajuan budaya pendekatan berbasis masyarakat dalam kebijakan kebudayaan, serta kolaborasi lintas negara demi membangun ekosistem budaya yang inklusif dan berkelanjutan.

Menurut Menbud Fadli, kompleksitas persoalan global, mulai dari ketegangan geopolitik, krisis iklim, degradasi lingkungan, hingga ketidaksetaraan sosial dan perkembangan teknologi, membutuhkan solusi yang tidak hanya mengandalkan pendekatan tradisional.

Budaya, menurutnya, hadir sebagai jembatan yang mampu mempertemukan berbagai bangsa di dunia.

Indonesia, lanjutnya, adalah salah satu peradaban tertua di dunia. “Selama berabad-abad, Nusantara menjadi titik temu pertukaran peradaban dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan, yang menghasilkan keragaman ekspresi budaya. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika, gotong royong, dan musyawarah menjadi fondasi bangsa kita dalam membangun harmoni, sekaligus kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,
Pratikno, menyampaikan bagaimana keselarasan hidup yang berdampingan dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) di masa kini.

“Teknologi Artificial Intelligence saat ini seharusnya bisa mempermudah hidup dalam segala sisi, mengingat banyaknya konten kebudayaan yang dibuat setiap harinya. Namun, harus diingat kecanggihan AI memiliki sejumlah risiko,” kata Menko PMK, Pratikno, saat memberikan sambutan.

Lebih lanjut, Pratikno menegaskan bahwa sebagaimana leluhur menjaga budaya dengan kebijaksanaan, kerja sama, dan rasa saling menghormati, kini dunia memiliki tanggung jawab yang sama di ranah digital. Teknologi, menurutnya, harus memperkuat ikatan budaya, bukan memecah belah masyarakat.

“Indonesia mendorong lahirnya tata kelola kecerdasan buatan yang mampu berbicara dalam semua bahasa dan melestarikan semua budaya. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi pijakan bagi peradaban digital yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ujarnya. Baiq

TERP HP-01