Waspada! Bali Masuk Musim Kemarau Lebih Kering, BBMKG Imbau Masyarakat Hemat Air

Waspada! Bali Masuk Musim Kemarau Lebih Kering, BBMKG Imbau Masyarakat Hemat Air

BADUNG – balinusra.com | Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III, mengeluarkan peringatan dini kekeringan di Bali seiring masuknya musim kemarau yang diprediksi lebih kering dari biasanya.

Fenomena ini mulai berdampak terhadap sejumlah wilayah, mulai dari Nusa Penida hingga kawasan Bali Utara, Timur, Selatan, dan Barat.

Meskipun saat ini masih berada di fase awal, beberapa titik dilaporkan telah mengalami kekeringan pendek akibat defisit curah hujan yang signifikan dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Masuk Musim Kemarau di Bali Ditandai Fenomena Hari Tanpa Hujan

Prakirawan BBMKG Wilayah III, Desak Made Pera Rosita Dewi menjelaskan, kondisi kekeringan pendek ini ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) selama kurang lebih lima hari berturut-turut.

Penurunan intensitas hujan ini memicu berkurangnya kelembapan tanah, serta menipisnya cadangan air permukaan.

BBMKG memperingatkan, jika pola cuaca kering ini menetap hingga lebih dari enam bulan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kekeringan jangka panjang.

Dampak Kekeringan Terhadap Sektor Pertanian

Salah satu sektor yang paling terancam oleh anomali cuaca ini adalah pertanian. Risiko gangguan siklus tanam hingga gagal panen menjadi ancaman nyata jika tidak segera diantisipasi.

Untuk meminimalkan kerugian ekonomi, BMKG menyarankan para petani untuk menyesuaikan jenis komoditas tanam dengan ketersediaan air. Serta memperhatikan pola musim yang sedang berlangsung guna menjaga pasokan irigasi.

Menghadapi potensi musim kemarau ekstrem, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah mitigasi mandiri. Salah satu tindakan krusial adalah pengadaan tampungan air bersih di tingkat rumah tangga. Hal ini untuk menjamin ketersediaan selama masa defisit hujan.

“Pengelolaan sumber daya air yang bijak sejak dini diharapkan mampu menekan dampak negatif dari kemarau yang lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Pera Rosita Dewi, Senin (11/5/2026).

Menghadapi Cuaca Ekstrem di Bali

Selain menjaga ketersediaan air, BBMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap proaktif memperbarui informasi peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.

Selain itu, kondisi cuaca yang fluktuatif selama musim kemarau menuntut masyarakat untuk lebih waspada terhadap daya tahan tubuh.

Pera Rosita Dewi menegaskan, memahami risiko iklim sejak dini adalah kunci agar Bali tetap tangguh menghadapi tantangan kemarau tahun ini. Baiq