DENPASAR – balinusra.com | Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali terus mencermati perkembangan pasokan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah Bali. Guna mengantisipasi kendala pasokan, BI memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pertamina, serta para pelaku usaha.
Berbagai langkah percepatan pemulihan pasokan yang dilakukan Pertamina diyakini secara bertahap dapat mengurangi antrean BBM dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dampak Keterbatasan BBM terhadap Sektor Pariwisata dan Operasional Usaha
Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani mengatakan, sinergi antar-pemangku kepentingan terus diperkuat guna memelihara kelancaran distribusi BBM, keberlangsungan aktivitas ekonomi. Serta stabilitas harga barang dan jasa.
Hasil pemantauan BI mengindikasikan bahwa keterbatasan pasokan BBM beberapa hari terakhir berdampak langsung pada kelancaran mobilitas masyarakat dan wisatawan. Hal ini juga memicu keterlambatan pada sebagian aktivitas operasional usaha.
“Dampak yang dilaporkan antara lain keterlambatan layanan transportasi wisatawan, penjemputan dan pengantaran tamu hotel. Serta pengiriman kebutuhan operasional seperti bahan makanan, minuman, dan jasa laundry,” katanya.
Kendati demikian, aktivitas usaha secara umum masih berjalan dan belum menunjukkan indikasi gangguan yang signifikan terhadap keseluruhan kegiatan ekonomi Bali.
Proyeksi Makroekonomi: Simulasi Dampak Pertumbuhan Ekonomi Bali
Berdasarkan hasil simulasi kalkulasi Bank Indonesia, dampak pasokan BBM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah diprakirakan tetap terukur. Gangguan 3–5 hari berdampak sekitar 0,014 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. Gangguan hingga 7 Hari dampak meningkat menjadi sekitar 0,019 persen.
Karena proses normalisasi distribusi BBM saat ini terus berlangsung, dampak terhadap perekonomian Bali diprakirakan bersifat sementara dan terbatas.
Dari sisi pergerakan harga, pemantauan BI di pasar-pasar tradisional dan pelaku usaha menunjukkan pasokan kebutuhan pokok masyarakat masih relatif terjaga. Termasuk harga komoditas pangan tetap stabil. Persediaan bahan pangan yang cukup efektif mencegah tekanan harga meluas akibat keterbatasan BBM.
Meskipun potensi kenaikan biaya distribusi dan logistik jangka pendek tetap ada, dampaknya terhadap inflasi Bali diprakirakan relatif terbatas.
Simulasi BI mencatat dampak inflasi 3–5 hari diprakirakan sekitar 0,010 persen. Sedangkan dampak inflasi 7 hari diprakirakan mencapai 0,018 persen.
Pencegahan Panic Buying hingga Kendaraan Listrik
Untuk menjaga ketenangan publik dan menghindari aksi pembelian berlebihan (panic buying), komunikasi publik yang efektif serta penyampaian informasi secara berkala terus diperkuat.
Penguatan sinergi TPID dan koordinasi bersama Pertamina menjadi langkah krusial dalam menjaga kecukupan pasokan, khususnya BBM bersubsidi.
Dalam jangka menengah dan panjang, penggunaan kendaraan listrik mendorong efisiensi energi sekaligus mendukung kelestarian lingkungan hidup di Bali.
Dukungan pasokan tambahan yang telah tiba, optimalisasi jalur distribusi, serta sinergi seluruh pemangku kepentingan optimis dapat menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi daerah. Baiq





