BANGLI – balinusra.com | Di balik popularitas Kopi Kintamani sebagai komoditas unggulan Bali, terdapat peran krusial para perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga turun langsung ke perkebunan untuk menanam, merawat lahan, hingga memetik buah kopi.
Salah satu sosok inspiratif adalah Ni Made Nuati (54), atau yang akrab disapa Wiwik. Bagi Wiwik, bekerja di sektor kopi adalah cara utama untuk bertahan hidup setelah suaminya meninggal dunia pada tahun 2011.
Meskipun berasal dari Gianyar dan bukan dari keluarga petani, Wiwik belajar beradaptasi dengan dunia pertanian kopi setelah menetap di Kintamani. Ia harus berjuang membesarkan empat orang anaknya sendirian yang saat itu anak bungsunya baru berusia tiga tahun.
“Anak saya yang nomor empat baru tiga tahun waktu ditinggal. Yang pertama baru tamat SMA, yang kedua kelas enam, yang ketiga baru TK. Sebelum saya jualan di kantin sekolah, kalau musim petik kopi ya ikut memetik. Kalau musim bersih-bersih ya ikut membersihkan rumput, ikut menanam juga,” tuturnya, Kamis (9/7/2026).
Pemberdayaan Perempuan oleh Coop Coffee Foundation
Kehadiran Coop Coffee Foundation di Desa Catur memberikan ruang bagi perempuan seperti Wiwik untuk tetap produktif. Yayasan ini berkomitmen mendorong pemberdayaan perempuan agar memiliki kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui sektor kopi.
Wiwik kini aktif membantu berbagai aktivitas bersama tim Coop Coffee Foundation. Dukungan ini sangat berarti karena hampir seluruh perempuan di Desa Catur terlibat dalam berbagai tahap produksi kopi, mulai dari penanaman hingga panen.

Menghadapi Tantangan di Perkebunan Kopi
Bekerja di kebun kopi bukan tanpa risiko. Wiwik mengaku sempat merasa takut menghadapi binatang liar seperti ular. Namun, seiring berjalannya waktu dan pengalaman, rasa khawatir tersebut hilang. “Kalau sudah kebiasaan, ya enjoy saja,” ungkapnya.
Di usianya yang tidak muda lagi, Wiwik berharap lebih banyak perempuan di desanya mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Ia ingin mengajak ibu-ibu di Desa Catur untuk memajukan kebun mereka agar hasil panen meningkat dan kebutuhan keluarga tercukupi.
Wiwik juga menaruh harapan besar pada perkembangan Coop Coffee Foundation agar manfaat program pemberdayaannya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat. Menurutnya, kesuksesan yayasan tersebut juga berarti kesejahteraan bagi para petani lokal.
Kisah Wiwik menjadi potret nyata bahwa di Desa Catur, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan simbol ketahanan ekonomi yang digerakkan oleh tangan-tangan tangguh para perempuan.
Pemberdayaan ini tidak hanya membuka peluang penghasilan, tetapi juga memperkuat masa depan komunitas petani kopi di Kintamani. Baiq





