Nyastra Lestarikan Warisan Sastra Leluhur, Lontar Kidung Bhramara Sangupati Dipersembahkan ke Puri Subamia

IMG_20260710_120149

TABANAN –balinusra.com | Para Ida Pedanda yang melaksanakan kegiatan Nyastra di Pura Pengastan Blayu mempersembahkan lontar Kidung Bhramara Sangupati, karya Ida Bhatara Lepas Ida Pedanda Wanasara (abad ke-18), kepada Angga Jro Subamia, Tabanan. Lontar tersebut disandingkan dengan pusaka keris peninggalan Ida Bhatara Lepas yang sejak lama tersimpan di Puri Subamia.

Ida Pedanda Gede Dwaja Tembuku Manuaba bersama Ida Pedanda Ketut Pemaron dan Prof, Drs, Ida Bgs Putu Suamba, menyampaikan, persembahan ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Keris merupakan pusaka sebagai lambang warisan spiritual dan kepemimpinan, sedangkan lontar merupakan pustaka atau Candi Aksara, yang menyimpan ajaran, nilai, dan kebijaksanaan leluhur.

Ida Pedanda Gede Dwaja Tembuku Manuaba, melanjutkan, penyatuan pusaka dan pustaka menjadi simbol bahwa kekuatan peradaban tidak hanya bertumpu pada benda pusaka, tetapi juga pada keluhuran ilmu pengetahuan, sastra, dan spiritualitas.

Ida Pedanda Gede Dwaja Tembuku Manuaba menjelaskan, kegiatan Nyastra yang mengkaji Kidung Bhramara Sangupati telah empat kali diselenggarakan di Pura Griya Wanasara. Sebagai wujud bhakti kepada Ida Bhatara Lepas, karya sastra beliau kembali disalin ke dalam media lontar dan dipersembahkan kepada Puri Subamia. Upaya ini merupakan ikhtiar melestarikan warisan intelektual dan spiritual Bali sekaligus memperkuat Puri sebagai pusat penjagaan nilai-nilai budaya berbasis sastra.

“Persembahan lontar ini juga menjadi simbol eratnya hubungan antara Griya dan Puri. Sinergi keduanya diharapkan semakin memperkokoh peran sastra sebagai landasan pembinaan keluarga, masyarakat, serta pelestarian ajaran dan budaya Hindu Bali,” jelas Ida Pedanda Gede Dwaja Tembuku Manuaba, Rabu (8/6/2026) di Tabanan.

Sebelum disimpan di Puri Subamia, lontar terlebih dahulu melalui upacara Pemlaspas di Pura Griya Wanasara. Selanjutnya, lontar dipendak di kawasan Jalan Gajah Mada, Tabanan, kemudian diiring menuju Puri Subamia dalam prosesi sakral untuk disandingkan dengan pusaka keris Ida Bhatara Lepas.

Prosesi mendak tersebut menyerupai Grebeg Sastra, sebuah perhelatan yang memuliakan aksara sebagai sumber pengetahuan dan penyucian jagat. Di tengah semakin langkanya tradisi penghormatan terhadap warisan sastra, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kesadaran akan pentingnya menjaga, mengkaji, dan mewariskan pustaka leluhur kepada generasi mendatang.

Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui perawatan benda-benda pusaka, tetapi juga melalui pelestarian pustaka sebagai sumber ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan jati diri peradaban Bali.rl