Epilepsi Bukan Kutukan: Kenali dan Hentikan Stimganya

Ilustrasi Edukasi Epilepsi-Made Ratna

Oleh: dr. Made Ratna Dewi Setiawan, Sp.N, (Universitas Warmadewa) 

Seringkali kita temui seseorang yang tiba-tiba terjatuh, tubuhnya kaku, lalu mengalami kejang, orang-orang di sekitarnya beriaksi panik, bahkan ada yang memasukkan sendok ke mulut pasien, ada pula yang memegang tubuhnya kuat-kuat agar kejang segera berhenti. Di sebagian masyarakat, kejang bahkan masih dikaitkan dengan kerasukan, kutukan, atau gangguan makhluk halus. Anggapan seperti ini perlu dihentikan. Epilepsi bukan kutukan dan bukan penyakit menular. Epilepsi adalah gangguan pada otak yang dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun lanjut usia.

Otak manusia bekerja melalui aktivitas listrik yang sangat teratur. Aktivitas listrik tersebut mengatur kesadaran, gerakan, kemampuan berbicara, ingatan, perasaan, dan berbagai fungsi tubuh lainnya. Pada epilepsi, terjadi aktivitas listrik yang berlebihan dan tidak terkendali untuk sementara waktu. Keadaan inilah yang dapat menimbulkan bangkitan atau kejang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, epilepsi termasuk penyakit otak kronis yang paling banyak ditemukan dan dialami oleh lebih dari 50 juta orang di dunia. Dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat, banyak orang dengan epilepsi dapat menjalani kehidupan ang aktif dan produktif.

Kejang Tidak Selalu Berarti Epilepsi 

Satu kali kejang belum tentu berarti seseorang menderita epilepsi. Kejang dapat terjadi akibat demam tinggi pada anak, kadar gula darah yang sangat rendah, gangguan elektrolit, infeksi otak, cedera kepala, keracunan, putus akohol, atau kondisi medis lainnya.

Epilepsi umumnya ditandai oleh kecenderungan mengalami kejang berulang yang tidak semata-mata disebabkan oleh gangguan sementara. Kejang adalah suatu kejadian, sedangkan epilepsi merupakan penyakit yang menyebabkan seseorang memiliki kecenderungan mengalami kejang berulang. Bentuk kejang juga tidak selalu berupa tubuh yang kaku dan bergerak menghentak. Sebagian orang hanya terlihat melamun beberapa detik dan tidak merespons ketika dipanggil. Ada pula yang tiba-tiba melakukan gerakan berulang, seperti mengecap bibir, menggosok tangan, atau berjalan tanpa tujuan. Setelahnya, pasien mungkin tidak mengingat kejadian tersebut.

Apa Penyebab Epilepsi? 

Penyebab epilepsi beragam. Epilepsi dapat berhubungan dengan faktor genetik, cedera kepala, stroke, tumor otak, infeksi pada otak, gangguan perkembangan otak, atau kekurangan oksigen saat kelahiran. Pada sebagian pasien, penyebabnya tidak dapat diketahui secara asti meskipun pemeriksaan telah dilakukan.

Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan menggali cerita kejadian secara rinci. Informasi dari keluarga atau orang yang menyaksikan kejang sangat penting karena pasien biasanya tidak menyadari seluruh peristiwa. Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan elektroensefalografi atau EEG untuk merekam aktivitas listrik otak. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI kepala mungkin diperlukan ntuk mencari kelainan pada struktur otak. Pemeriksaan darah juga dapat dilakukan untuk menilai kadar gula, elektrolit, fungsi organ, atau kemungkinan penyebab lainnya.

Jangan Masukkan Benda ke Mulut

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan ketika menolong orang kejang adalah memasukkan sendok, jari, kain, kopi, air, atau benda lain ke dalam mulut. Tindakan tersebut tidak boleh dilakukan, memasukkan benda ke mulut justru dapat menyebabkan gigi patah, luka pada mulut, tersedak, atau cedera pada orang yang menolong. Saat menemukan seseorang mengalami kejang, tetaplah tenang. Jauhkan benda keras, tajam, atau berbahaya dari sekitarnya. Lindungi kepala pasien dengan benda yang lembut, misalnya jaket atau handuk yang dilipat. Longgarkan pakaian yang terlalu ketat di sekitar leher dan lepaskan kacamata apabila digunakan. Jangan menahan gerakan tangan atau kaki pasien secara paksa. Catat waktu mulai kejang. Miringkan tubuh pasien agar air liur atau muntahan dapat keluar dan jalan napas tetap terbuka. Kemudian segera mencari pertolongan medis. Tetap dampingi sampai pasien sampai sadar kembali atau bantuan medis datang. Sebaiknya jangan memberikan minuman, makanan, atau obat melalui mulut sebelum pasien benar-benar sadar.

Epilepsi Dapat Dikendalikan 

Pengobatan epilepsi bertujuan mencegah kejang kembali dengan efek samping seminimal mungkin. Obat antikejang harus diminum secara teratur sesuai petunjuk dokter. Pasien tidak boleh mengurangi dosis atau menghentikannya secara mendadak hanya karena sudah lama tidak mengalami kejang. Penghentian tibatiba dapat memicu kejang berulang, bahkan kejang berkepanjangan.

Kurang tidur, lupa minum obat, konsumsi alkohol, stres berlebihan, serta demam atau penyakit tertentu dapat memicu kejang pada sebagian pasien. Namun, pencetus setiap orang dapat berbeda. Tidak semua orang dengan epilepsi sensitif terhadap cahaya berkedip. Karena itu, anggapan bahwa seluruh pasien epilepsi pasti mengalami kejang ketika melihat cahaya terang tidaklah tepat. Pasien juga perlu memperhatikan keselamatan. Aktivitas di ketinggian, berenang sendirian, mandi dengan pintu terkunci, atau bekerja dengan mesin berbahaya perlu dihindari apabila kejang belum terkendali. Aturan mengenai mengemudi juga perlu dipatuhi untuk melindungi pasien dan pengguna jalan lainnya.

Masalah terbesar yang dialami orang dengan epilepsi bukan hanya kejang. Banyak pasien menghadapi rasa malu, penolakan, perundungan, kesulitan memperoleh pekerjaan, bahkan dijauhkan dari lingkungan sosial. Stigma dapat membuat pasien menyembunyikan penyakitnya dan enggan mencari pertolongan. Padahal, seseorang dengan epilepsi tetap dapat belajar, bekerja, berkeluarga, dan berkontribusi bagi masyarakat. Mereka membutuhkan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, lingkungan yang aman, dan kesempatan yang adil. Keluarga juga memiliki peran besar. Alih-alih menyalahkan pasien, keluarga dapat membantu memastikan obat diminum teratur, menemani kontrol, mengenali pencetus, dan memahami pertolongan pertama saat kejang. Guru, rekan kerja, dan masyarakat juga perlu mengetahui tindakan yang benar sehingga tidak memperparah keadaan.

Untuk itu pengetahuan sederhana tersebut sangatlah penting untuk dapat mencegah cedera, bahkan menyelamatkan nyawa. Sehingga kondisi epilepsi ini adalah kondisi medis yang sebenarnya dapat dikendalikan. Yang perlu kita khawatirkan bukanlah orang dengan epilepsi, melainkan ketidaktahuan dan stigma yang salah yang masih hidup di tengah masyarakat.