MATARAM – balinusra.com | Cuaca ekstrem berupa kabut tebal yang menyelimuti kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada Senin sore (25/5/2026), memaksa misi penyelamatan udara terhadap seorang pendaki asal Malaysia dibatalkan sementara.
Korban bernama Chye Connsynn (41) dilaporkan mengalami kecelakaan serius, dan diduga menderita cedera tulang belakang saat turun dari puncak Rinjani.
Kronologi Kecelakaan di Jalur Puncak Rinjani
Berdasarkan data aplikasi eRinjani, korban terdaftar mendaki sejak Minggu (24/5/2026) melalui pintu masuk Sembalun.
Petaka terjadi pada Senin sore sekitar pukul 15.00 WITA, ketika korban terjatuh di sekitar punggungan jalur pendakian saat bergerak turun menuju Pelawangan.
Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kelumpuhan sementara pada kedua kakinya dan tidak mampu berdiri. Pemandu dan porter segera mengevakuasi korban secara manual ke tenda darurat di Pelawangan 2 Sembalun untuk berlindung dari angin kencang.
Kendala Evakuasi Udara: Kabut dan Bahan Bakar
Pihak Balai TNGR segera berkoordinasi dengan tim medis Nusa Medica dan asuransi untuk melakukan medical evacuation menggunakan helikopter, guna meminimalkan guncangan pada tubuh korban.
Helikopter medis diterbangkan dari Bali pada pukul 16.18 WITA, dan tiba di lokasi pada pukul 17.09 WITA. Namun, upaya penjemputan menemui kendala besar.
Kabut tebal menyebabkan jarak pandang yang sangat terbatas membuat pilot tidak bisa mendarat dengan aman. Helikopter juga sempat berputar selama 20 menit. Namun karena sudah mendekati waktu matahari terbenam (sunset), operasional harus dihentikan.
Kendala lainnya yaitu indikator bahan bakar yang menipis memaksa helikopter harus kembali ke Denpasar, Bali pada pukul 17.30 WITA.
Kondisi Medis Kritis dan Rencana Lanjutan
Dokter Klinik Nusa Medica, dr. Lia Puspita Jaya menjelaskan, kondisi korban sangat riskan karena adanya dugaan cedera tulang ekor dan tulang belakang.
“Korban dengan kondisi seperti ini tidak boleh sembarangan digerakkan. Kami khawatir jika dipaksakan evakuasi via darat, akan terjadi pergeseran yang mengakibatkan cacat permanen,” jelas dr. Lia.
Saat ini, tim gabungan dari Basarnas dan EMHC telah bergerak naik dari Resort Sembalun untuk memberikan pertolongan pertama (first aid). Sekaligus memantau kondisi korban di tenda darurat.
Misi evakuasi udara dijadwalkan ulang pada Selasa pagi (26/5/2026), pukul 07.00 WITA, dengan menerbangkan kembali helikopter dari Bali. Pihak medis tetap bersiaga di pos bawah untuk melakukan penanganan lanjutan segera setelah korban berhasil diturunkan. Baiq





