Perkuat Respon Darurat, 400 Warga Bali Ikuti Simulasi Kebencanaan Inklusif Bali Mandala

Perkuat Respon Darurat, 400 Warga Bali Ikuti Simulasi Kebencanaan Inklusif Bali Mandala
Simulasi bencana gempa bumi di Desa Nawa Kerti, Karangasem.

GIANYAR – balinusra.com | Dalam rangka memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB), IDEP Selaras Alam melalui Program Bali Mandala secara berkelanjutan memperkuat kapasitas kesiapsiagaan masyarakat desa berbasis potensi ancaman bencana lokal.

Langkah nyata ini diwujudkan melalui rangkaian gladi ruang (Table Top Exercise/TTX). Serta simulasi lapangan kebencanaan inklusif yang diselenggarakan di empat desa dampingan di Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Karangasem.

Uji Validasi Dokumen Risiko Bencana di 4 Desa

Rangkaian simulasi ini menjadi instrumen penting untuk menguji serta memvalidasi dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), dan Rencana Kontingensi (Renkon) yang telah disusun bersama masyarakat.

Simulasi digelar secara bertahap sesuai karakteristik potensi bencana setempat. Seperti Desa Pejeng Kelod (Gianyar) simulasi penanganan banjir genangan. Desa Nawa Kerti (Karangasem) simulasi penanganan cuaca ekstrem dan angin kencang.

Kemudian, Desa Labasari (Karangasem) melakukan simulasi tanggap bencana gempa bumi, dan Desa Manukaya (Gianyar) simulasi mitigasi serta evakuasi tanah longsor.

Secara keseluruhan, lebih dari 400 warga dan elemen masyarakat terlibat langsung dalam rangkaian simulasi ini, mencakup unsur Forum PRB Desa (FPRB), Tim Siaga Desa, aparatur pemerintah desa, kelompok perempuan, pemuda, lansia, anak-anak. Hingga penyandang disabilitas.

Kesiapsiagaan Skala Besar dan Mitigasi Bencana Tanah Longsor

Project Manager Bali Mandala Listya menjelaskan, setiap desa memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda. Khusus di Desa Manukaya, tanah longsor menjadi ancaman prioritas utama karena letaknya di dataran tinggi dengan lereng curam. Diperparah oleh perubahan musim yang meningkatkan frekuensi kejadian longsor.

Meskipun pihak desa telah berupaya melakukan penanggulangan mandiri dan berkoordinasi dengan BPBD saat bencana terjadi, Listya menekankan pentingnya simulasi skala besar bagi kesiapsiagaan desa.

“Simulasi hari ini menjadi langkah penting untuk memperkuat kesiapsiagaan dan memberikan pengalaman langsung bagi aparatur desa, tim PRB, dan masyarakat dalam penanggulangan bencana skala lebih besar,” katanya.

Listya pun berharap kegiatan kesiapsiagaan inklusif ini tidak berhenti sampai di sini, tapi dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh desa. Tujuannya agar seluruh elemen masyarakat semakin sigap dalam menghadapi potensi bencana.

Pengalaman Langsung Warga dan Sektor Pendidikan

Simulasi kebencanaan di Desa Manukaya memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya koordinasi antar regu kesiapsiagaan. Mulai dari Tim Peringatan Dini, Kaji Cepat, Evakuasi dan Pencarian, Pertolongan Pertama (P3K), Penampungan, hingga Regu Dapur Umum.

Dewa Ayu Eka Yuliani, anggota regu Dapur Umum Desa Manukaya, membagikan pengalamannya saat mengoordinasikan kebutuhan konsumsi pengungsi.

“Pengalaman hari ini sangat berkesan. Kami belajar berkoordinasi dengan tim penampungan untuk mendata jumlah pengungsi, mulai dari anak-anak, lansia, ibu hamil, hingga penyandang disabilitas. Agar porsi makanan yang disiapkan sebanyak 100 porsi bisa terdistribusi secara tepat. Simulasi ini memberikan gambaran nyata bagaimana dapur umum bekerja dalam kondisi darurat,” tuturnya.

Sementara itu, Nyoman Surat dari Regu Evakuasi dan Pencarian menekankan pentingnya kesiapan mental dan latihan teknis secara langsung.

“Saat praktik, kami merasa gugup dan ragu-ragu, terutama dalam pencatatan dan menentukan mana korban yang harus diutamakan. Namun, lewat simulasi ini kami jadi punya bekal nyata. Kesiapan mental sangat diuji, dan ini menjadi pelajaran berharga agar ke depan kami semakin siap saat situasi darurat benar-benar terjadi,” katanya.

Pelibatan Sektor Pendidikan

Dukungan dan pelibatan sektor pendidikan juga terlihat dari partisipasi warga sekolah. Wayan Narta, guru olahraga SDN 3 Manukaya, mengapresiasi pelibatan siswa dan tenaga pendidik dalam simulasi bencana.

“Simulasi seperti ini sangat penting dan bernilai 10 dari 10 untuk diterapkan di lingkungan sekolah. Siswa dan guru jadi paham prosedur pertolongan pertama dan evakuasi. Kegiatan ini tidak hanya menantang dan seru, tetapi juga membekali anak-anak sejak dini tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana,” kata Wayan Narta.

Seluruh temuan dan evaluasi dari pelaksanaan simulasi ini akan dijadikan bahan penyempurnaan Dokumen Rencana Kontinjensi desa, sebelum disahkan secara resmi melalui Peraturan Desa (Perdes) atau SK Kepala Desa.

Melalui kerangka Bulan PRB ini, Program Bali Mandala mendorong pemerintah desa untuk menjadikan simulasi kebencanaan sebagai agenda rutin desa. Tujuannya untuk memastikan kesiapsiagaan masyarakat Bali tetap terjaga secara mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Baiq