Cegah Bias Portofolio, Gubernur Wayan Koster Gelar Psikotes 40 Pejabat Eselon II Pemprov Bali

Cegah Bias Portofolio, Gubernur Wayan Koster Gelar Psikotes 40 Pejabat Eselon II Pemprov Bali
Gubernur Bali Wayan Koster (kiri) menggelar psikotes bagi 40 pejabat Eselon II Pemprov Bali di FK Unud.

DENPASAR – balinusra.com | Gubernur Bali Wayan Koster buka suara terkait pelaksanaan tes psikotes bagi seluruh pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Prof. dr. I Goesti Ngoerah Gde Ngoerah, Lantai 4, Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (FK Unud), Kampus Sudirman, Denpasar.

Gubernur menegaskan bahwa tes psikotes ini bukan ditujukan untuk mencari-cari kesalahan pejabat. Tetapi untuk memperoleh gambaran profil karakteristik personal yang lebih utuh dan komprehensif.

“Terima kasih telah mengikuti tes psikotes ini. Saya ingin mendapatkan gambaran profil karakteristik personal seluruh pejabat Eselon II,” kata Gubernur Bali.

Hindari Bias Manajemen Talenta dan Promosi Hanya Berdasarkan Portofolio

Menurut Wayan Koster, penilaian jabatan melalui sistem manajemen talenta selama ini masih menyimpan bias dan tidak selalu selaras dengan ekspektasi di lapangan.

Bahkan, untuk pengisian jabatan Eselon II, III, dan IV, Gubernur mengaku belum pernah bertemu langsung secara personal dengan para pejabat yang bersangkutan.

Selama ini, penilaian untuk promosi jabatan hanya bersandar pada portofolio yang dinilai belum tentu menggambarkan kompetensi sebenarnya.

“Karena itu saya buat tes ini agar saya mendapatkan gambaran lebih personal yang lebih utuh. Saya ingin jabatan ini betul-betul diisi oleh kompetensi yang profesional dan kepemimpinan yang tepat,” tegasnya.

Koster menekankan bahwa pejabat Eselon II memegang peran vital sebagai pimpinan langsung yang menjadi perpanjangan tangan Gubernur, dalam mengoperasionalkan berbagai program di setiap kepala perangkat daerah.

Karakter Mempengaruhi Kinerja, Hasil Psikotes Dipastikan Rahasia

Lebih lanjut Koster menjelaskan, karakter individu sangat menentukan perilaku kerja seseorang. Secara sosiologis, dinamika karakter tersebut dapat membawa dampak positif maupun negatif, tergantung mana yang lebih dominan. Sehingga sangat mempengaruhi kinerja dan ekosistem di lingkungan kerja.

Kendati demikian, Gubernur memastikan bahwa hasil pemetaan psikologis ini bersifat rahasia dan tidak akan disebarluaskan ke publik.

“Hasilnya tidak disebarluaskan. Ini bukan berarti akan dicopot dari jabatan, meskipun saya dapat gambaran ke depannya kalau kinerjanya tidak bagus. Apalagi ini Eselon II,” jelasnya.

Dorong ASN Lebih Responsif Sesuai Tupoksi dan Matriks Kerja

Gubernur meminta seluruh pejabat Eselon II untuk terus meningkatkan kinerja dengan mengeksekusi program kerja sesuai matriks yang telah ditetapkan. Serta berpegang teguh pada Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) masing-masing.

“Bukan hanya sistematis dalam bekerja, tapi memahami kinerja yang baik sebagai Aparatur Sipil Negara. Harus lebih responsif dan lebih tepat dalam mengerjakan kebijakan ke depannya,” imbuh Gubernur Bali.

Sebagai informasi, kegiatan psikotes ini merupakan bentuk kerjasama antara BKPSDM Pemprov Bali dan Fakultas Kedokteran Unud guna mendorong kesejahteraan kerja. Sekaligus juga mengoptimalkan kinerja ASN.

Pemetaan profil psikologis pejabat eksekutif ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WITA. Diikuti oleh sebanyak 40 orang pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemprov Bali. Baiq