DENPASAR – balinusra.com | Setelah sempat mengalami deflasi sebesar -0,51 persen (mtm) pada Juli lalu, Provinsi Bali kini kembali mencatat inflasi bulanan sebesar 0,61 persen (mtm) pada periode Agustus 2026. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), lonjakan ini dipicu oleh tingginya aktivitas pariwisata, serta berbagai kegiatan adat masyarakat Bali.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani menjelaskan, momentum peak season pariwisata menjadi pendorong utama yang mendongkrak permintaan tiket pesawat di Bali.
Di samping itu, permintaan komoditas pangan juga melonjak drastis seiring tingginya frekuensi kegiatan sosial keagamaan. Serta normalisasi aktivitas setelah masa libur sekolah berakhir.
Faktor Utama Pendorong Inflasi Bali Agustus 2026
Kombinasi antara pulihnya pariwisata pasca-liburan dan tradisi lokal menjadi motor penggerak inflasi di wilayah Bali pada bulan Agustus 2026.
Beberapa pemicu utamanya meliputi, puncak kunjungan wisatawan (peak season). Lonjakan kedatangan pelancong secara langsung menaikkan permintaan tiket penerbangan menuju Bali.
Kemudian, permintaan tinggi akan bahan makanan, khususnya daging ayam ras. Hal ini karena maraknya penyelenggaraan pernikahan, upacara adat, dan ritual ngaben di Bali.
Pemicu lainnya yaitu terdapat normalisasi permintaan terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG) setelah berakhirnya libur sekolah.
Perbandingan Inflasi Bali vs Nasional
Secara tahunan, laju inflasi Provinsi Bali mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari 2,42 persen (yoy) pada Juli 2026, menjadi 3,45 persen (yoy) pada Agustus 2026.
Angka inflasi tahunan Bali ini tercatat lebih tinggi dari tingkat inflasi nasional yang berada di level 3,19 persen. Meski begitu, inflasi Bali masih dinilai aman karena berada di dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen.
Peningkatan harga tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Bali. Berdasarkan pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di 4 kabupaten/kota, Kabupaten Buleleng mengalami inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,12 persen (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,61 persen (yoy).
Kemudian Kota Denpasar mencatat inflasi bulanan sebesar 0,65 persen (mtm) dengan inflasi tahunan mencapai 3,64 persen (yoy). Kabupaten Badung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,35 persen (mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,86 persen (yoy).
Serta Kabupaten Tabanan mencatatkan inflasi bulanan terendah sebesar 0,33 persen (mtm). Sedangkan inflasi tahunannya mencapai 3,59 persen (yoy).
Komoditas Penyumbang Utama dan Penahan Inflasi
Kenaikan harga pada bulan Agustus didominasi oleh beberapa komoditas barang dan jasa. Seperti daging ayam ras, tarif angkutan udara (tiket pesawat), buncis, nasi dengan lauk, dan biaya sekolah dasar (SD).
Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil diredam oleh penurunan harga pada komoditas bawang merah dan bawang putih, bensin, tomat. Serta baju kaos tanpa kerah (t-shirt pria).
Meskipun saat ini inflasi masih terkendali dalam rentang sasaran, Bank Indonesia Provinsi Bali memperingatkan beberapa risiko eksternal dan domestik. Risiko tersebut patut diwaspadai dalam beberapa waktu mendatang.
Tingginya permintaan barang dan jasa diperkirakan akan berlanjut hingga akhir periode peak season wisatawan mancanegara (Juli sampai September).
Kondisi cuaca ekstrem merupakan dampak dari musim kemarau panjang disertai fenomena El Nino kuat yang berpotensi mengganggu sektor produksi pertanian di tingkat lokal.
Masih tingginya ongkos pengiriman barang secara global yang dapat memicu kenaikan harga barang-barang impor.
Guna meredam potensi lonjakan harga lebih lanjut, Bank Indonesia mendukung penuh langkah strategis yang dijalankan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali.
Upaya mitigasi tersebut difokuskan pada penguatan pemantauan harga secara berkala. Serta intensifikasi operasi pasar di berbagai wilayah Bali agar inflasi tetap terjaga stabil pada rentang 2,5±1 persen. Baiq





