BADUNG – balinusra.com | Pesisir Pantai Kuta kembali menjadi saksi keajaiban siklus alami kehidupan laut. Seiring dimulainya musim peneluran penyu yang meningkat signifikan pada April ini, tim rescue dari Kuta Beach Sea Turtle Conservation Center (KBSTC) bergerak cepat mengamankan puluhan sarang demi menjaga kelestarian populasi penyu lekang.
Hingga saat ini, tercatat sedikitnya 24 sarang telur penyu telah berhasil dievakuasi sejak awal Februari lalu. Telur-telur yang ditemukan di sepanjang garis pantai, mulai dari kawasan Legian hingga Pantai Jerman, segera direlokasi ke pusat penangkaran di sebelah Kantor Satgas Pantai Kuta untuk menjamin keamanan proses inkubasi.
Menuju Puncak Musim Peneluran
Staf rescue KBSTC, Made Suwena menjelaskan, aktivitas yang terlihat saat ini baru permulaan. Puncak musim peneluran diprediksi akan jatuh pada bulan Juni hingga Juli mendatang. Saat ini, petugas rata-rata menemukan dua hingga tiga sarang per hari.
Namun, angka ini diperkirakan akan melonjak drastis saat musim puncak tiba. Langkah evakuasi ini dinilai sangat krusial karena habitat alami penyu di Kuta kian rawan.
“Tanpa perlindungan di penangkaran, telur-telur tersebut sangat berisiko rusak akibat terinjak wisatawan atau dimangsa oleh anjing liar di sekitar pantai,” ungkap Suwena, Selasa (28/4/2026).
Proses penyelamatan dilakukan secara profesional oleh tim yang terdiri dari 11 petugas patroli. Mereka memantau pergerakan penyu abu-abu (penyu lekang) yang naik ke daratan dengan tetap menghormati insting alami sang induk.
Petugas akan menunggu dengan sabar hingga induk penyu selesai bertelur dan kembali ke laut lepas sebelum mulai memindahkan butir-butir telur ke wadah yang lebih aman. Metode ini memastikan bahwa intervensi manusia tidak mengganggu siklus reproduksi alami satwa yang dilindungi tersebut.
Edukasi Wisata: Ritual Pelepasan Tukik Setiap Sore
Selain sebagai benteng perlindungan, KBSTC juga menjadi magnet edukasi bagi para pelancong di Bali. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah ritual pelepasan tukik (bayi penyu) ke samudera.
Setiap sore, sekitar pukul 17.00 WITA, wisatawan dan warga lokal diajak berpartisipasi langsung dalam melepasliarkan tukik di Pantai Kuta secara gratis. Kegiatan ini memberikan pengalaman emosional yang mendalam sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut.
Keberhasilan penemuan sarang-sarang penyu ini menjadi bukti bahwa di balik hiruk-pikuk pariwisata internasional, Pantai Kuta tetap mampu menjadi rumah yang ramah bagi biodiversitas laut.
Upaya kolektif antara tim rescue dan Satgas Pantai ini menegaskan bahwa penyelamatan setiap butir telur adalah investasi panjang bagi keseimbangan ekosistem Bali.
Dengan adanya dukungan publik dan kesadaran lingkungan yang terus meningkat, KBSTC berharap tren positif ini dapat berlanjut demi masa depan pariwisata berbasis lingkungan yang berkelanjutan. Baiq





