DENPASAR – balinusra.com | Pemerintah Provinsi Bali resmi memulai pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bali di Desa Pedungan, Denpasar Selatan. Proyek strategis ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia.
Pembangunan PSEL Bali menjadi proyek pertama dalam program percepatan PSEL nasional sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan, fasilitas ini adalah jawaban atas tantangan sampah di Pulau Dewata yang selama ini menjadi perhatian serius.
“Jika PSEL ini selesai, maka persoalan sampah di Bali dapat ditangani secara tuntas,” kata Gubernur Koster saat meresmikan proyek tersebut pada Rabu (8/7/2026).
Pembangunan proyek PSEL ini ditargetkan selesai dalam waktu satu tahun delapan bulan, atau sekitar Oktober 2027.
Teknologi Canggih Berstandar Eropa
PSEL Bali akan menggunakan teknologi moving grate incinerator yang telah teruji secara internasional. Keunggulan utama dari fasilitas ini menggunakan Sistem Pengendalian Pencemaran Udara (APCS), lengkap dengan teknologi berlapis yang sudah sesuai standar emisi Eropa (EU IED).
Keunggulan lainnya mampu menurunkan emisi hingga 80 persen dibandingkan metode pembuangan terbuka (open dumping) di TPA. Serta mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun ini tidak hanya fokus pada pembersihan lingkungan. Tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan.
PSEL Bali diproyeksikan dapat menghasilkan energi hijau yang cukup untuk memasok sekitar 100.000 rumah. Menciptakan hingga 1.200 lapangan kerja hijau selama masa konstruksi hingga operasional. Serta memastikan kenyamanan bagi lebih dari 16 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali setiap tahunnya.
Sinergi dan Filosofi Budaya Lokal
Keberhasilan proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kota Denpasar, PLN, dan Danantara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menekankan bahwa sinergi ini penting agar sampah tidak menjadi beban bagi generasi mendatang.
Menariknya, desain PSEL Bali tidak hanya bersifat industri, tetapi juga mengadopsi filosofi Tri Hita Karana dan arsitektur lokal Bali.
Fasilitas ini akan dilengkapi dengan visitor center dan jalur edukasi bagi pelajar maupun peneliti. Menjadikannya sebagai ikon baru edukasi lingkungan di Bali.
PSEL Bali dijadwalkan memulai operasi komersial pada Semester I Tahun 2028, membawa harapan baru bagi kelestarian lingkungan dan kemajuan ekonomi Pulau Dewata. Baiq





