BADUNG – balinusra.com | Kawasan Pantai Kuta kini tidak hanya populer karena keindahan matahari terbenamnya. Belakangan ini, wisata edukatif pelepasan tukik (bayi penyu) menjadi daya tarik emosional yang sangat diminati oleh wisatawan mancanegara.
Fenomena ini menandai pergeseran tren pariwisata Bali menuju wisata minat khusus yang berbasis pelestarian lingkungan.
Momen Pelepasan Tukik Jadi Pengalaman Eksklusif bagi Wisatawan
Menurut Asisten Manager Daerah Tujuan Wisata (DTW) Pantai Kuta, I Putu Gilang Bayu Sadra Putra, momen pengembalian tukik ke habitat aslinya adalah agenda yang paling diburu pelancong.
Keunikan kegiatan ini terletak pada sifatnya yang tidak terjadwal secara rutin, karena sangat bergantung pada siklus alami penetasan telur penyu.
Ketidakpastian jadwal inilah yang justru menciptakan kesan eksklusif bagi para pengunjung yang beruntung bisa berpartisipasi langsung.
Pada pembukaan musim terbaru, tercatat sebanyak 125 ekor tukik telah dilepaskan ke laut lepas. Untuk menjaga kesejahteraan satwa, pihak pengelola menerapkan aturan yang sistematis dengan pembatasan kuota. Jumlah peserta disesuaikan dengan jumlah tukik yang siap rilis.
Selain itu, pihak pengelola juga menerapkan prosedur ketat agar kondisi fisik bayi penyu yang masih rentan tidak terganggu oleh aktivitas manusia.
“Antusias ini menjadi sinyal positif bagi pariwisata Bali. Turis kami ajak terlibat langsung dalam aksi nyata penyelamatan lingkungan di pesisir Badung,” ungkap Gilang.
Lebih dari sekadar hiburan visual, pengelola DTW Pantai Kuta berharap aktivitas ini dapat membangun kesadaran global tentang pentingnya pelestarian penyu. Melalui keterlibatan wisatawan asing, pesan mengenai kelestarian laut diharapkan dapat tersebar ke seluruh dunia.
Dengan langkah ini, Pantai Kuta berupaya menjadi simbol harmoni antara pariwisata modern dan perlindungan alam yang berkelanjutan. Baiq





