GIANYAR – balinusra.com | Upaya kemanusiaan untuk membantu lansia terlantar dan anak-anak kurang mampu di Pulau Dewata kini memasuki babak baru. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Yayasan Luh Getas resmi menjadi lembaga berbadan hukum di Gianyar, Bali.
Langkah ini menjadi tonggak sejarah bagi gerakan sosial yang sebenarnya telah dirintis oleh pendirinya sejak tahun 2011 secara personal.
Pendiri Yayasan, Ni Luh Getas menjelaskan, perolehan status legal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan publik serta para donatur. Dengan payung hukum yang jelas, yayasan berharap dapat memperluas jangkauan bantuan ke seluruh pelosok Bali.
Selama lebih dari satu dekade bergerak, wilayah Karangasem tercatat sebagai daerah dengan penerima manfaat terbanyak.
“Harapan saya, semakin banyak anak kurang mampu yang bisa kita bantu agar tidak putus sekolah,” ungkap Ni Luh Getas, terkait visi pendidikan yayasannya.
Selain itu, ia juga berkomitmen untuk membantu lansia yang kehilangan tempat tinggal agar bisa memiliki hunian yang layak.
Yayasan Luh Getas memiliki beberapa program prioritas yang menyasar langsung kebutuhan dasar masyarakat. Seperti Program Bedah Rumah, yakni proyek renovasi hunian dan telah dilaksanakan secara masif di hampir seluruh wilayah Bali, termasuk Singaraja.
Kemudian, Program Lansia Asuh, yang mana program ini memberikan perawatan intensif bagi lansia yang sudah tidak berdaya atau tidak mampu mengurus diri sendiri.
Saat ini, terdapat tiga lansia yang mendapatkan pengawasan total, mencakup penyediaan tenaga pembantu hingga kebutuhan konsumsi harian.
Penyaluran bantuan dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu. Namun, dalam situasi mendesak seperti kondisi kesehatan yang menurun, tim yayasan siap memberikan bantuan lebih dari sekali dalam sepekan.
Meskipun rutin terjun ke lapangan, Yayasan Luh Getas masih menemukan kendala serius terkait akses bantuan pemerintah. Banyak lansia di pelosok Bali yang ternyata tidak memiliki dokumen kependudukan seperti KTP maupun Kartu Keluarga (KK).
“Semakin masuk ke pelosok, semakin banyak kondisi miris yang kami temukan. Masih ada yang tidak punya identitas, sehingga tidak mendapatkan bantuan (pemerintah),” terang Ni Luh Getas.
Kondisi ini menjadi fokus perhatian yayasan agar para lansia tersebut tetap bisa mendapatkan uluran tangan meski terkendala administrasi.
Melalui peresmian ini, Yayasan Luh Getas membuka pintu kolaborasi bagi pemerintah, donatur, maupun masyarakat umum untuk ikut berkontribusi. Ni Luh Getas menekankan bahwa aksi berbagi tidak harus menunggu kondisi ekonomi yang berlebih.
“Kalau punya rezeki lebih, jangan menunggu kaya untuk berbagi. Uluran tangan sekecil apa pun sangat berarti bagi mereka,” pungkasnya. Baiq





