DENPASAR – balinusra.com | Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali terus menunjukkan tren positif pada Agustus 2026. Meskipun aktivitas pariwisata mulai memasuki fase normalisasi, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali tetap bertahan di level 128,5, yang menandakan kondisi perdagangan eceran berada dalam zona optimis (indeks >100).
Keterangan tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Achris Sarwani, dalam siaran persnya pada Rabu (21/10/2026).
Faktor Pendorong Penjualan Eceran Bali
Penguatan kinerja penjualan ritel pada Agustus 2026 terutama didorong oleh peningkatan permintaan pada sejumlah kelompok barang utama yang meliputi, bahan bakar kendaraan bermotor meningkat 4,2 persen (mtm), suku cadang dan aksesori meningkat 3,3 persen (mtm). Serta barang budaya dan rekreasi meningkat 1,6 persen (mtm).
Peningkatan ini mencerminkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat lokal maupun wisatawan pada periode puncak kunjungan (peak season). Aktivitas tersebut sekaligus mendorong kebutuhan sektor transportasi, rekreasi, dan kegiatan ekonomi pendukung lainnya.
Kinerja penjualan ritel yang kuat ini selaras dengan kokohnya fundamental perekonomian Bali. Pada Triwulan II 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,78 persen (yoy) berkat dorongan konsumsi rumah tangga, investasi, dan sektor pariwisata.
Prospek September 2026 dan Keyakinan Konsumen
Tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi Bali juga masih terjaga dengan baik. Berdasarkan hasil survei konsumen terbaru, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali pada September 2026 berada pada zona optimis sebesar 122,75.
Menjelang bulan berikutnya, Achris Sarwani memproyeksikan tren penjualan eceran di Bali akan tetap solid.
“Kinerja penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan tetap kuat. Hal ini tercermin dari IPR September 2026 yang diprakirakan berada pada level 128,9, atau meningkat 0,3 persen (mtm). Ditopang oleh peningkatan penjualan pada kategori sandang sebesar 4,5 persen (mtm), kategori peralatan informasi dan komunikasi sebesar 4,3 persen (mtm). Serta kategori barang budaya dan rekreasi sebesar 3,3 persen (mtm),” terangnya.
Meskipun kunjungan wisatawan mulai memasuki fase normalisasi pasca-puncak liburan Agustus 2026, volume kunjungan dan aktivitas ekonomi pendukung masih relatif tinggi. Sehingga tetap menopang permintaan barang konsumsi.
Analisis Inflasi dan Ekspektasi Harga
Dari sisi persepsi harga, pelaku usaha diperkirakan masih melihat adanya tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang, meski intensitasnya cenderung memoderasi.
Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk November 2026 dan Februari 2027 masing-masing tercatat sebesar 198.
Sementara itu, inflasi Bali pada September 2026 tercatat sebesar 3,79 persen (yoy), naik dari 3,45 persen (yoy) pada bulan sebelumnya, dan sedikit berada di atas sasaran inflasi nasional.
Walaupun demikian, kenaikan inflasi ini belum menggerus optimisme masyarakat maupun pelaku bisnis di Bali.
Optimisme Pelaku Usaha dan Pertumbuhan Kredit
Keyakinan pelaku bisnis terhadap prospek penjualan ritel ke depan tetap terjaga di level tinggi. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) mencatatkan angka sebagai berikut:
- IEP 3 Bulan Mendatang: Level 178 (sedikit terkoreksi dari 180 pada survei sebelumnya)
- IEP 6 Bulan Mendatang: Level 168 (turun dari 188 pada survei sebelumnya)
Meskipun mengalami penyesuaian seiring perkiraan normalisasi pariwisata dan ekspektasi harga, angka IEP yang tetap jauh di atas batas netral (100) mengindikasikan prospek penjualan ritel Bali akan terus tumbuh.
Hal ini didukung pula oleh data Survei Konsumen September 2026, di mana Indeks Ekspektasi Konsumen meningkat dari 128,17 (Agustus 2026) menjadi 130,33 (September 2026). Selain itu, pertumbuhan kredit Lapangan Usaha Perdagangan hingga Juli 2026 mencatatkan kenaikan sebesar 1,86 persen (yoy).
Secara menyeluruh, hasil Survei Penjualan Eceran menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi dan perdagangan ritel di Bali berada pada fase ekspansi. Dengan terjaganya daya beli masyarakat dan prospek bisnis yang positif, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Bali diproyeksikan tetap kuat sepanjang semester II 2026. Baiq





