DENPASAR – balinursa.com | Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk tidak terlalu banyak membuka program studi (prodi) baru. Ia meminta pihak kampus mempertimbangkan opsi penggabungan atau merger prodi agar pengelolaan administrasi serta akreditasi menjadi lebih sederhana dan efisien.
Pernyataan tersebut Brian sampaikan dalam Konferensi Nasional Asosiasi Profesi Pendidikan Tinggi Indonesia (Konaspi) XII yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, pada 2–4 Oktober 2026.
Menurutnya, merger prodi dapat menyederhanakan manajemen perguruan tinggi tanpa menurunkan jumlah mahasiswa yang ada.
“Pegel ngurus akreditasi, ya kan? Prodi kalau perlu digabung-gabung aja, merger. Kan lebih singkat. Yang penting jumlah mahasiswa tidak berkurang,” ujarnya.
Satu Kali Akreditasi untuk Efisiensi Perguruan Tinggi
Guna memberikan gambaran nyata, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mencontohkan kondisi di mana lima prodi yang masing-masing memiliki 100 mahasiswa digabungkan menjadi satu prodi besar, dengan total 500 mahasiswa. Brian menilai langkah ini sangat membantu penyederhanaan manajemen internal kampus.
“Administrasi mudah, akreditasi yang tadinya 5 kali 5 tahun tinggal 1 kali. Manajemennya juga enggak banyak. Sehingga lebih simpel,” katanya.
Kritik terhadap Pembatasan Bidang Keilmuan
Selain masalah akreditasi, Mendiktisaintek juga menyoroti kecenderungan perguruan tinggi yang semakin mempersempit cakupan keilmuan akibat terlalu banyak membuka prodi baru.
Sebagai contoh, bidang Teknik Elektro yang dulu memiliki cakupan luas kini terpecah menjadi berbagai prodi spesifik. Seperti Teknik Telekomunikasi, Teknik Biomedik, hingga Teknik Informatika.
Penyempitan ini dinilai berpotensi membatasi pilihan lulusan ketika memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, ia menekankan agar perguruan tinggi lebih berfokus pada pengembangan kualitas keilmuan ketimbang memperbanyak jumlah prodi.
“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya. Prodi itu hanya administrasi. Jangan kita mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” tegas Mendiktisaintek Brian Yuliarto.
Ia juga mengingatkan bahwa keahlian individu di bidang tertentu tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membentuk prodi baru.
“Biasanya memang ada orang suhu, jago, bidangnya A, dia merasa ini harus jadi prodi. Nah, itu salah, Bapak, Ibu sekalian. Silahkan keilmuan dikembangkan, jangan membatasi diri pada prodi,” lanjutnya.
Orientasi pada Hasil dan Dampak Sosial
Brian kembali menegaskan agar perguruan tinggi mempertimbangkan merger jika langkah tersebut membuat pengelolaan pendidikan lebih efektif. Kampus diharapkan dapat berorientasi pada hasil pendidikan (outcome) dan dampak nyata bagi masyarakat. Bukan sekadar terjebak dalam struktur administrasi.
“Jadi itu, kita harus membuat paradigma jangan tersekat-sekat dengan administrasi. Outcome kita jelas, apa lulusan kita, bagaimana dampak kepada masyarakat. Apa persoalan daerah yang bisa diselesaikan,” pungkasnya. Baiq





