Maju Calon Perbekel Blahbatuh, Made Dwiantara Usung Perubahan Tata Kelola Desa Lebih Dekat dengan Warga

Calon perbekel Blahbatuh, Dwi Antara
Calon Perbekel Blahbatuh, Made Dwi Antara

GIANYAR – balinusra.com | Made Dwiantara secara resmi menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Perbekel Blahbatuh, Gianyar. Dengan membawa visi perubahan yang segar, ia berkomitmen untuk membenahi tata kelola pemerintahan desa, serta menghadirkan gaya kepemimpinan yang lebih dekat dan responsif terhadap kebutuhan warga.

Menurut Made Dwiantara, pemerintah desa merupakan instansi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh karena itu, seorang pemimpin desa sudah sepatutnya membuka ruang komunikasi lebar-lebar. Serta bersedia mendengar masukan warga secara langsung.

Meskipun ia mengakui bahwa tata kelola Pemerintahan Desa Blahbatuh saat ini sudah berjalan cukup baik, ia menilai masih ada ruang besar untuk penguatan dan terobosan di berbagai bidang strategis.

“Walaupun selama ini sudah cukup baik, itu perlu ada tambahan nilai plusnya di sana bagi saya untuk ya melakukan terobosan-terobosan perbaikan ke depannya di Desa Blahbatuh itu sendiri,” katanya, Jumat (4/9/2026).

Fokus Utama Program Perubahan Made Dwiantara di Desa Blahbatuh

Jika dipercaya oleh masyarakat untuk memimpin Desa Blahbatuh, Made Dwiantara memfokuskan program kerjanya pada empat pilar utama.

Made menegaskan, seorang pemimpin tidak boleh hanya mengandalkan laporan tertulis dari balik meja kerja. Pemimpin harus terjun langsung ke lapangan guna memetakan dan menyelesaikan masalah riil di masyarakat.

“Nah sekarang, perubahan yang paling signifikan yang akan saya bawa adalah, pemimpin itu akan hadir di tengah masyarakat. Ikut merasakan apa yang masyarakat itu sendiri rasakan,” ujarnya.

Solusi Nyata Penanganan Sampah Blahbatuh

Masalah lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, menjadi sorotan tajam bagi Made Dwiantara. Ia menilai penanganan sampah butuh komitmen kolaboratif yang kuat antara pemerintah desa dan seluruh elemen warganya.

“Misi yang paling penting yang saya bawa itu adalah, ya perubahan yang signifikan secara tata kelola. Tata kelola di mana saya menyikap tentang sampah. Sampah yang ada di Blahbatuh masih belum terselesaikan secara signifikan,” katanya.

Meskipun data penanganan sampah di Blahbatuh disebut telah mencapai 70 persen, ia menekankan pentingnya verifikasi lapangan secara objektif dan mendalam bersama kalangan akademisi.

“Walaupun Blahbatuh secara garis besarnya sudah mendekat ke arah yang lebih maksimal, yaitu 70 persen sampah yang ada di Blahbatuh sudah selesaikan secara data. Namun secara mata, kajian dari akademisi itu masih perlu kajian yang mendalam,” ujarnya.

Menurut Made Dwiantara, edukasi pemilahan sampah tidak bisa dibebankan seluruhnya kepada petugas lapangan. Pemerintah desa harus proaktif turun memberikan sosialisasi.

“Perlu kajian yang mendalam dalam bidang sosialisasi, turun langsung ke masyarakat. Bukan menyerahkan sepenuhnya kepada petugas yang ada di lapangan,” tegasnya.

Ia juga menambahkan pentingnya peran aktif pemimpin dalam mitigasi bencana lingkungan. “Seorang pemimpin ya harus ikut. Ikut merasakan, ikut terjun langsung melihat bagaimana masyarakatnya memilah. Bagaimana cara masyarakatnya itu memilah dan menempatkan sebuah permasalahan sampah ini, biar tidak terjadi hal-hal permasalahan sampah yang akan menunggu bom waktu bagi saya sendiri,” jelas Made.

Pemberdayaan Gen Z dan Optimalisasi PAD Desa

Pembangunan kepemudaan juga menjadi agenda prioritas Made Dwiantara. Ia melihat potensi luar biasa pada generasi muda, khususnya Gen Z, yang butuh dukungan nyata untuk berkembang.

“Di lini sektor yang paling penting ya peran regenerasi muda yaitu Gen Z di dalam mengembangkan sebuah usaha maupun kreativitas mereka. Mereka perlu wadah, perlu naungan,” ujarnya.

Baginya, pemerintah desa harus hadir menciptakan ruang kreatif, sekaligus mencari sumber pendapatan baru bagi desa guna mendukung program-program tersebut.

“Pemerintah desa itu hadir untuk mengondisikan semua itu menjadi lebih baik lagi ke depannya,” katanya.

Mengenai keterbatasan anggaran desa, ia optimis hal tersebut bukan menjadi hambatan jika pemerintah desa jeli dalam menggali potensi lokal.

Salah satu strategi konkret yang ditawarkannya adalah membangun komunikasi yang harmonis dengan sektor usaha swasta di wilayah desa.

“Ya, salah satunya mungkin dengan adanya pendekatan-pendekatan yang persuasif terhadap toko-toko modern, gerai-gerai toko modern,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya integrasi teknologi dalam pemetaan potensi UMKM, objek wisata. Serta sumber Pendapatan Asli Desa yang selama ini dinilai belum terdata dengan optimal.

“Itu belum ternote bagi saya sendiri. Itu masih perlu penambahan yang secara fleksibilitasnya perlu pengkajian khusus ke depannya untuk tahap pembenaran atau perbaikan-perbaikan,” ujarnya tambahnya.

Penataan Tata Ruang dan Sinergi Desa Adat-Dinas

Isu krusial lain yang diangkat adalah masalah tata ruang. Khususnya pendampingan regulasi terkait tiang provider internet yang kerap dikeluhkan warga karena berada di pekarangan pribadi.

“Jadi masyarakat yang ingin memindahkan tiang ini terkadang terbenturkan dengan regulasi yang ada. Mereka harus bayar. Padahal itu tanahnya dia sendiri,” ungakap Made Dwiantara.

Made melihat ada celah koordinasi yang perlu dibenahi. Karena pemerintah desa selama ini kurang proaktif hadir di tengah warga untuk memberikan solusi hukum dan regulasi.

“Jadi pemerintah desa itu masih kurang proaktif hadir di tengah untuk mendampingi regulasi-regulasi yang ada dalam tata kelola,” ujarnya.

Sebagai langkah perbaikan, Made Dwiantara menekankan mutlaknya keselarasan gerak antara dinas dan desa adat demi kemajuan bersama di Blahbatuh.

“Ya minimal sinergitas adat dan dinas itu menjadi tanggung jawab yang riil dalam proses pengembangan perubahan yang lebih baik ke depannya,” tutupnya. Red