GIANYAR – balinusra.com | Kehadiran Sembari Co-Working & Co-Living di Ubud, Bali, membawa angin segar bagi ekosistem kreatif di Pulau Dewata. Terletak strategis di tengah hamparan sawah yang asri, Sembari bukan sekadar menawarkan tempat menginap dan bekerja, tapi juga sebagai ruang kolaborasi bagi berbagai komunitas untuk mengembangkan kegiatan positif.
Founder Sembari, Sienny Thio menjelaskan, konsep kolaborasi inilah yang menjadi pembeda utama Sembari dibandingkan dengan akomodasi atau coworking space pada umumnya. Sembari membuka pintu bagi berbagai komunitas untuk bersinergi sesuai dengan potensi kegiatan yang dapat dikembangkan bersama.
Menjadi Bagian dari Ekosistem Komunitas di Ubud
Menurut Sienny, komunitas lokal di Bali memiliki gudang ide kreatif yang membutuhkan ruang untuk diwujudkan agar memberikan manfaat luas. Sembari hadir untuk menjadi bagian integral dari ekosistem tersebut.
“Kami melihat justru penggabungan berbagai komunitas ini yang bisa menjadi keunikan tersendiri bagi Sembari,” ujar Sienny Thio usai peresmian pada Sabtu (8/7/2026).
Selain ruang terbuka untuk berinteraksi, Sembari juga menyediakan area privat bagi pengunjung yang membutuhkan konsentrasi tinggi untuk bekerja atau pertemuan bisnis. Menariknya, layanan ini tersedia 24 jam non-stop, memberikan fleksibilitas penuh bagi para profesional.
Potensi Ubud sebagai Hub Digital Nomad dan Kreatif
Pemilihan lokasi di Ubud berdasarkan karakter kawasan ini yang sudah kuat sebagai pusat aktivitas kreatif, mulai dari seni hingga yoga. Sembari menyasar masyarakat yang memiliki gaya hidup fleksibel, termasuk para digital nomad.
“Bali masih menjadi tujuan bagi orang-orang yang ingin bekerja sambil bepergian atau tinggal dalam periode tertentu. Selain wisatawan, ada juga orang yang membutuhkan tempat untuk bekerja, bertemu komunitas. Maupun melakukan kegiatan kreatif,” jelas Sienny.
Ia menambahkan, Sembari ingin membangun identitas yang melekat di hati pengunjung sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman mereka di Ubud.
“Kami ingin Sembari memiliki sesuatu yang unik dan mudah diingat. Ketika orang berbicara tentang suatu tempat, ada satu hal yang langsung membuat mereka teringat pada tempat tersebut. Kami ingin ketika orang berbicara tentang Ubud atau pengalaman mereka di sini, juga mengingat Sembari,” katanya.
Peluang Pasar dan Penawaran Spesial
Sienny melihat peluang pasar yang besar. Karena kebutuhan akan ruang kerja dan aktivitas komunitas tidak hanya tinggi pada akhir pekan, tetapi berlangsung sepanjang pekan.
“Potensinya cukup terbuka. Tidak hanya akhir pekan, karena kebutuhan orang berbeda-beda dan ada yang datang untuk bekerja maupun mengikuti kegiatan tertentu. Kami juga ingin mengikuti tren dan melihat kebutuhan pasar yang terus berkembang,” ujarnya.
Sebagai bagian dari masa pembukaan, Sembari menawarkan harga promo kamar mulai dari Rp148 ribu, dari tarif normal yang berada di kisaran Rp700 ribu. Sejak resmi dibuka, Sembari mulai didatangi tamu yang memiliki kebutuhan beragam. Mulai dari menginap hingga bekerja, harapannya dapat berkembang menjadi komunitas yang saling berinteraksi.
Dengan perpaduan konsep co-working, co-living, dan ruang komunitas, Sembari Ubud berkomitmen untuk menjadi wadah bertemunya orang, gagasan, dan inovasi bagi seluruh komunitas kreatif di Bali. Baiq





