BANGLI – balinusra.com | Ribuan masyarakat adat Batur menggelar kegiatan Napak Tilas 100 Tahun Rarud Batur, Senin (3/8/2026), sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah evakuasi besar-besaran seabad silam. Kegiatan ini menyusuri jejak perjalanan leluhur saat menyelamatkan diri dari erupsi Gunung Batur pada tahun 1926.
Prosesi napak tilas dimulai pukul 08.00 WITA dengan titik keberangkatan dari Purwa Mandala (Titik Nol) Desa Batur Let. Ribuan warga membawa panji-panji tempekan (kelompok adat) melintasi tebing Kaldera I Batur menuju Desa Adat Bayung Gede, sebelum akhirnya berakhir di Pura Ulun Danu Batur.
Sekira pukul 11.00 WITA, rombongan tiba di Desa Adat Bayung Gede dan disambut hangat oleh masyarakat setempat. Momen ini merefleksikan kembali peristiwa seratus tahun lalu ketika warga Batur mengungsi, dan mengamankan benda-benda sakral (duwe-duwe) Pura Ulun Danu Batur di Pura Bale Agung Desa Bayung Gede selama dua tahun.
Ikatan Persaudaraan Kultural dan Spiritual
Kegiatan ini juga menjadi ajang ramah tamah yang mempererat hubungan persaudaraan antara Desa Batur dan Desa Bayung Gede yang telah terjalin selama ratusan tahun. Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Palinggih Dane Jero Gede Duhuran Batur, para Jero Penyarikan. Serta jajaran Jero Kubayan dan Jero Bendesa dari Bayung Gede.
Bendesa Bayung Gede, Ketut Sukarta menjelaskan, kedekatan kedua desa ini diabadikan dalam berbagai tradisi unik, di antaranya:
Larangan Menikah: Adanya pantangan bagi warga kedua desa untuk saling menikah sebagai simbol persaudaraan yang sangat erat.
Lumbung Beras Ida Bhatari: Desa Bayung Gede diyakini sebagai lumbung beras bagi Ida Bhatari Batur. Setiap tahun masyarakatnya mempersembahkan sarin tahun ke Pura Ulun Danu Batur pada saat Purnama Kasanga.
Persinggahan Melasti: Setiap kali Ida Bhatara-Bhatari Batur melaksanakan upacara melasti ke laut selatan. Mereka akan masandekan (beristirahat) dan diberikan upacara di pura setempat.
Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang
Jero Gede Duhuran Batur mengungkapkan rasa harunya atas pelaksanaan napak tilas 100 Tahun Rarud Batur ini, yang menurutnya merupakan pencitraan perjuangan leluhur dalam mempertahankan kebudayaan di tengah bencana.
Ia menekankan bahwa hubungan Batur dan Bayung Gede tidak hanya bersifat sakala (fisik), tetapi juga niskala (spiritual).
Senada dengan hal tersebut, Jero Penyarikan Duuran Batur menegaskan pentingnya menjaga solidaritas masyarakat pegunungan Bali ini. Ia berpesan agar warisan leluhur yang telah dijaga berabad-abad ini tidak diubah atau dikurangi. Melainkan diteruskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya yang kuat. Baiq





