Libur Panjang HBKN Dorong Lonjakan Penjualan Ritel Bali dan Stabilitas Ekonomi

Libur Panjang HBKN Dorong Lonjakan Penjualan Ritel Bali dan Stabilitas Ekonomi
Penjualan ritel Bali melonjak di tengah libur panjang HBKN dengan IPR mencapai 125,3. Foto: Ilustrasi AI Gemini

DENPASAR – balinusra.com | Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali menunjukkan tren positif yang signifikan di tengah periode libur panjang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Berdasarkan data terbaru, Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali tetap kokoh di angka 125,3, tetap berada di atas level optimis (lebih dari 100).

Pencapaian ini mencatatkan peningkatan sebesar 0,8 persen (mtm), yang utamanya didorong oleh kelompok barang suku cadang dan aksesori (naik 5,0 persen), bahan bakar kendaraan bermotor (naik 2,2 persen). Serta barang budaya dan rekreasi (naik 1,8 persen).

Peningkatan ini dipicu oleh tingginya mobilitas masyarakat selama libur Jumat Agung, dan perayaan HUT di Kabupaten Gianyar dan Klungkung.

Proyeksi Mei 2026: Penjualan Ritel Diprediksi Semakin Kuat

Optimisme pasar diperkirakan terus berlanjut hingga Mei 2026. IPR Mei 2026 diprakirakan mencapai 126,0, tumbuh 0,6 persen (mtm). Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan pada kategori sandang, makanan, minuman, dan tembakau.

Momentum libur panjang seperti Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak menjadi faktor utama yang menjaga kuatnya konsumsi rumah tangga di Bali.

Tren ini mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi daerah tetap bergairah seiring dengan meningkatnya frekuensi perjalanan dan perayaan keagamaan.

Stabilitas Inflasi dan Kebijakan Strategis Bank Indonesia

Meskipun aktivitas ekonomi meningkat, stabilitas harga tetap menjadi prioritas. Pada Mei 2026, inflasi Bali tercatat sebesar 2,99 persen (yoy), tetap berada dalam sasaran nasional yaitu 2,5±1 persen.

Namun, terdapat ekspektasi kenaikan harga pada Juli dan Oktober 2026 yang tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) sebesar 200,0.

Untuk menjaga keseimbangan ekonomi, Bank Indonesia telah menetapkan kebijakan moneter, yakni BI-Rate 5,50 persen, Suku Bunga Deposit Facility 4,50 persen. Serta Suku Bunga Lending Facility 6,25 persen.

Kebijakan tersebut bersifat pro-stability untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan (pro-growth).

Optimisme Pelaku Usaha dan Dukungan Pembiayaan

Keyakinan pelaku usaha terhadap prospek bisnis di Bali juga tetap terjaga tinggi. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk Juli 2026 yang naik menjadi 172,0, dan IEP Oktober 2026 yang mencapai 190,0. Angka ini menunjukkan optimisme yang kuat karena berada jauh di atas zona 100.

Selain itu, sektor perdagangan juga didukung oleh pertumbuhan kredit yang sehat. Hingga April 2026, kredit Lapangan Usaha (LU) Perdagangan tercatat tumbuh sebesar 1,99 persen (yoy).

Langkah Strategis ke Depan: Strategi 4K

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali berkomitmen terus memperkuat strategi 4K untuk menjaga daya beli masyarakat:

  1. Keterjangkauan Harga.
  2. Ketersediaan Pasokan.
  3. Kelancaran Distribusi.
  4. Komunikasi Efektif.

Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu memastikan inflasi tetap terkendali dan ekonomi Bali terus tumbuh secara berkelanjutan di masa mendatang. Baiq