Dampak Tes Kemampuan Akademik: Antara Kualitas Pendidikan dan Kreativitas Siswa

Dampak Tes Kemampuan Akademik Antara Kualitas Pendidikan dan Kreativitas Siswa
Dampak penerapan Tes Kemampuan Akademik menurut Dr. Eddy Supriyadinata Gorda.

DENPASAR – balinusra.com | Penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Indonesia dinilai memiliki dua sisi mata uang, yakni berpotensi besar meningkatkan kualitas pendidikan. Namun juga menyimpan risiko terhadap kreativitas siswa.

Kebijakan ini memerlukan antisipasi serius agar tujuan mencetak SDM unggul dapat tercapai tanpa mengorbankan daya kritis peserta didik.

Tes Kemampuan Akademik sebagai Pemicu Standar Kompetensi Global

Pengamat pendidikan, Dr. AAN. Eddy Supriyadinata Gorda, menyatakan bahwa TKA dapat menjadi katalisator bagi sekolah untuk keluar dari zona nyaman. Dengan adanya standar ini, sekolah didorong untuk menyelaraskan kualitas pengajaran mereka dengan standar kompetensi global demi mewujudkan visi SDM unggul.

“TKA dapat memicu sekolah-sekolah untuk keluar dari zona nyaman. Serta mulai menyelaraskan kualitas pengajaran dengan standar kompetensi global yang diinginkan dalam visi SDM unggul,” katanya, Rabu (15/4/2026).

Selain meningkatkan standar, lanjut Eddy, hasil TKA yang dikumpulkan secara masif dapat berfungsi sebagai basis data penting bagi pemerintah. Data TKA tersebut memungkinkan pemerintah memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi infrastruktur pendidikan. Serta peningkatan kualitas guru secara lebih spesifik dan tepat sasaran.

Dari sisi karakter, Dr. Eddy menilai bahwa jika dikelola dengan manajemen yang baik, TKA mampu membentuk mentalitas tangguh pada siswa. Ujian ini dapat melatih sportivitas sejak dini, yang sangat dibutuhkan siswa saat menghadapi persaingan di dunia profesional masa depan.

Waspadai Risiko “Teaching to the Test”

Meskipun bermanfaat, Dr. Eddy memberikan peringatan keras mengenai potensi dampak negatif, terutama praktik teaching to the test. Ada kekhawatiran sekolah bisa berubah menjadi sekadar “kamp pelatihan soal” yang hanya fokus pada hasil ujian. Sehingga mematikan rasa ingin tahu alami siswa.

Selain itu, sistem TKA yang umumnya menuntut jawaban tunggal (berpikir konvergen) khawatirkan dapat membatasi pola pikir kreatif. Padahal, SDM unggul masa depan sangat membutuhkan kemampuan berpikir divergen atau out-of-the-box yang kreatif.

Dr. Eddy juga menekankan bahwa kualitas manusia tidak boleh hanya diukur dari angka akademik semata. Keunggulan sejati bagi generasi mendatang haruslah merupakan kombinasi harmonis antara Widya (ilmu pengetahuan), dan Wiweka (kemampuan membedakan baik dan buruk). Baiq