LOMBOK TENGAH – balinusra.com | Fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi akan berlangsung panjang pada tahun 2026 justru membawa angin segar bagi sektor pertanian di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat melaporkan bahwa para petani telah mulai melakukan penanaman tembakau lebih awal dari jadwal biasanya.
Meskipun belum memasuki musim tanam ketiga, kondisi cuaca yang kering akibat dampak El Nino dinilai sangat mendukung pertumbuhan tanaman tembakau.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah, Zaenal Arifin, mengonfirmasi bahwa aktivitas tanam sudah meluas di berbagai wilayah.
Sebaran Wilayah Tanam Tembakau di Lombok Tengah
Menurut data Dinas Pertanian, para petani yang mulai menanam tembakau tersebar di beberapa kecamatan utama, antara lain di Kecamatan Janapria, Praya Timur, Kopang, Pujut, dan Kecamatan Praya Tengah.
“Petani saat ini telah mulai menanam tembakau. Ada yang tanamannya sudah berumur 20 hari, dan ada juga yang masih dalam tahap persiapan lahan,” kata Zaenal Arifin di Lombok Tengah, Rabu (24/6/2026).
Sementara itu, berdasarkan informasi dari BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan cukup panjang akibat fenomena El Nino Godzilla. Bagi komoditas lain, kekeringan mungkin menjadi kendala. Namun bagi tembakau, yang tidak memerlukan banyak air, kondisi ini justru sangat menguntungkan.
Peluang ekonomi dari tanaman tersebut sangat menjanjikan karena harga beli tembakau saat ini tergolong stabil dan cukup baik. Petani memiliki fleksibilitas dalam penjualan. Baik dalam bentuk tembakau basah maupun tembakau kering setelah melalui proses pengeringan (open).
Target Luas Tanam dan Potensi Ekonomi 2026
Pada tahun 2026, Pemkab Lombok Tengah memproyeksikan luas lahan tembakau mencapai 9.000 hektare, setara dengan capaian tahun sebelumnya. Wilayah Praya Timur dan Janapria tetap menjadi sentra utama dengan rincian: Kecamatan Praya Timur diproyeksikan mencapai 3.000 hingga 5.000 hektare.
Kemudian sistem penanaman, petani menerapkan dua system. Yakni sistem biasa dan sistem jaringan irigasi untuk mengantisipasi jika terjadi hujan agar lahan tidak terendam.
Sektor tembakau, khususnya varietas Virginia, merupakan tulang punggung ekonomi di Lombok Tengah. Sebagai gambaran, pada tahun 2025, produksi tembakau Virginia di wilayah ini mencatatkan angka yang fantastis.
Luas tanam lebih dari 8.500 hektare, volume produksi sekitar 478 ribu kuintal. Nilai produksi menembus angka Rp 400 miliar.
Selain meningkatkan pendapatan langsung petani, subsektor ini juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Serta berkontribusi pada penerimaan daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). An





