DENPASAR – balinusra.com | Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali pada Juli 2026 mencatatkan penguatan signifikan di angka 126,3, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 121,5. Pencapaian ini menempatkan optimisme konsumen Bali berada di atas rata-rata IKK nasional yang tercatat sebesar 116,8.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani mengatakan, tren positif ini didorong oleh persepsi masyarakat yang semakin kuat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi masa depan.
Analisis Kenaikan IKK Berdasarkan Kelompok Pengeluaran
Peningkatan keyakinan konsumen terjadi hampir di seluruh strata ekonomi, terutama pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp8 juta yang melonjak hingga 32,5 persen (mtm). Selain itu, kelompok pengeluaran Rp7-8 juta naik 12,5 persen, serta kelompok Rp5-6 juta meningkat 11,4 persen.
Optimisme ini juga merata di berbagai sektor lapangan kerja. Pekerja sektor formal (127,3), dan sektor informal (124,8) menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap stabilitas ekonomi daerah.
Ketersediaan Lapangan Kerja dan Penghasilan
Peningkatan IKK Juli 2026 ditopang oleh dua komponen utama, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 122,3 (tumbuh 2,5 persen mtm).
Kenaikan ini dipicu oleh membaiknya ketersediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan. Serta peningkatan konsumsi barang tahan lama dibandingkan enam bulan lalu.
Kemudian, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) melonjak ke angka 130,3 (tumbuh 5,4 persen mtm). Masyarakat Bali optimis terhadap perkiraan penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha di masa mendatang.
Sinergi Pariwisata dan Pertumbuhan Ekonomi Bali
Kuatnya optimisme ini sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 yang mencapai 5,78 Persen (yoy), lebih tinggi dari Triwulan I sebesar 5,58 persen (yoy) dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen (yoy).
Sektor-sektor kunci yang menjadi motor penggerak meliputi berlanjutnya kunjungan selama periode libur sekolah dan hari raya keagamaan. Peningkatan di bidang konstruksi, perdagangan, dan pertanian. Serta terjaganya inflasi Bali pada level rendah yang didukung oleh pasokan pangan yang stabil.
Kedepan, Bank Indonesia Bali berkomitmen memperkuat sinergi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) ,dan Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).
Fokus utama tetap pada stabilitas harga melalui operasi pasar dan kelancaran distribusi pangan guna menjaga daya beli masyarakat.
Dari sisi moneter, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen, dengan suku bunga Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen. Kebijakan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berkelanjutan. Baiq





