Pencegahan Stunting Sejak Remaja: Inisiatif Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Geluntung

Pencegahan Stunting Sejak Remaja Inisiatif Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Geluntung
Pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan.

TABANAN – balinusra.com | Masalah stunting sering kali dianggap hanya berfokus pada balita, padahal pencegahannya harus dimulai jauh lebih awal. Menyadari hal ini, Jurusan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Poltekkes Kemenkes Denpasar menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Geluntung, Kecamatan Marga, Tabanan.

Kegiatan bertajuk “Pencegahan Dini Stunting Melalui Skrining Anemia dan Status Gizi, serta Edukasi Kesehatan” ini menyasar para remaja yang tergabung dalam Seka Teruna Teruni (STT) desa setempat.

Mengapa Pencegahan Stunting Harus Dimulai Sejak Remaja?

Ketua tim pengabdian, I Gusti Ayu Sri Dhyanaputri, SKM., MPH, menekankan bahwa kondisi kesehatan remaja sangat menentukan kualitas generasi masa depan. Masa remaja adalah periode pertumbuhan fisik yang cepat dan perkembangan organ reproduksi. Sehingga kebutuhan zat gizi meningkat drastis.

“Pencegahan stunting harus memulainya sejak remaja. Ketika sudah menikah, tidak bisa baru mulai mengatasi persoalan tersebut. Kuncinya persiapkan sejak remaja agar nantinya dapat menghasilkan generasi yang berkualitas,” terang Dhyanaputri.

Lanjutnya menjelaskan, bagi remaja putri, menjaga status gizi dan mencegah anemia sangat krusial sebagai persiapan fisik sebelum menjalani kehamilan di masa depan.

Skrining Kesehatan dan Edukasi Pola Makan

Dalam kegiatan yang berlangsung di Wantilan Desa Geluntung pada Minggu (16/8/2026), para peserta mengikuti serangkaian pemeriksaan kesehatan. Diantaranya pemeriksaan Hemoglobin (Hb) untuk mendeteksi risiko anemia secara dini.

Kemudian, skrining status gizi untuk memantau kondisi fisik remaja. Serta memberikan pemahaman tentang pentingnya asupan zat besi.

Salah satu hal menarik yang disoroti adalah kebiasaan minum teh setelah makan. Teh mengandung senyawa yang dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan. Sehingga remaja penting untuk memperhatikan waktu konsumsinya agar terhindar dari kekurangan zat besi.

Tips Mencegah Anemia dan Stunting bagi Remaja

Berdasarkan panduan dari tim Poltekkes Denpasar, ada beberapa langkah yang perlu remaja perhatikan. Seperti mengonsumsi sumber zat besi (daging, hati, telur, ikan, dan kacang-kacangan). Memperbanyak buah dan sayur sebagai sumber vitamin dan mineral.

Kemudian, mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) seminggu sekali, rutin memantau status gizi dan melakukan aktivitas fisik. Serta menerapkan pola hidup sehat dan menghindari penghambat penyerapan gizi.

Selain menyasar generasi muda, tim pengabdian masyarakat juga memberikan pelayanan kepada kelompok lansia. Pemeriksaan meliputi pengecekan gula darah, hemoglobin, kolesterol, hingga asam urat.

Temuan medis di lapangan kemudian diikuti dengan edukasi mengenai pengaturan pola makan yang tepat bagi lansia. Hal ini untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan lebih lanjut.

Desa Geluntung Pertahankan Status “0 Stunting”

Sementara itu, Perbekel Desa Geluntung, I Putu Gunarsa Wiranjaya, menyambut baik kegiatan ini sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia mengungkapkan bahwa saat ini Desa Geluntung berada pada kondisi 0 stunting.

“Walaupun tidak ada stunting, kami tetap mencegah terjadinya hal tersebut sebagai tujuan dari bangsa kita,” tegas Gunarsa.

Ia berharap kerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Denpasar dapat terus berlanjut melalui berbagai program kesehatan lainnya demi kesejahteraan warga Desa Geluntung, Baiq