BANGLI – balinusra.com | Coop Coffee Foundation bersama mitra strategisnya, SDG Impact Japan, melakukan kunjungan lapangan dan verifikasi terhadap Proyek Pemulihan Kintamani di Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli, Kamis (9/7/2026). Verifikasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan proyek karbon berbasis agroforestri kopi yang diarahkan sebagai aksi mitigasi perubahan iklim melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM) antara Indonesia dan Jepang.
Proyek yang dikelola bersama petani kopi Desa Catur itu sejalan dengan implementasi kebijakan pemerintah mengenai penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dalam upaya pengendalian emisi gas rumah kaca.
Momentum verifikasi ini juga bertepatan dengan peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) oleh Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Proyek Pemulihan Kintamani resmi tercatat sebagai salah satu proyek karbon berbasis Nature-based Solutions (NbS) dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI).
Desa Catur Jadi Percontohan
Desa Catur menjadi desa percontohan (pilot project) dalam program Tropical Landscape Grant Funding (TLGF) yang didukung lembaga lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak Oktober 2023.
Sejumlah capaian telah dihasilkan melalui program tersebut, mulai dari penguatan kawasan hutan kopi melalui penanaman pohon, pembentukan Farmers Support Center, digitalisasi lahan, peningkatan serapan karbon, hingga mendorong investasi hijau di sektor perkebunan kopi.
Selain fokus pada konservasi lingkungan, Coop Coffee Foundation juga mengembangkan berbagai program pendukung, seperti pembuatan biochar, pengolahan pupuk organik dari limbah kopi, pengelolaan sampah, pembibitan, hingga literasi keuangan hijau bekerja sama dengan Agen46 BNI.
Program tersebut juga mengedepankan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui pemberdayaan perempuan dan kelompok rentan di Desa Catur.
Bangun Ekonomi Rendah Karbon
Founder Coop Coffee Foundation, Reza Fabianus, mengatakan membangun ekosistem ekonomi rendah karbon tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses edukasi yang berkelanjutan kepada petani agar mampu menerapkan praktik pertanian yang ramah lingkungan sekaligus menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
“Salah satu strategi agar program inklusi dan ekonomi kreatif ini terus berjalan mandiri adalah menghasilkan kopi berkualitas premium yang memiliki pasar. Dengan begitu keberlanjutan ekonomi petani tetap terjaga sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Desa Catur dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurut Reza, keberlanjutan program dibangun melalui kolaborasi antara Coop Coffee Foundation yang berfokus pada pendampingan petani di sektor hulu dan PT Koop Kopi Indonesia yang menangani sektor hilir.
Yayasan berperan dalam peningkatan kapasitas petani, penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pembibitan, hingga digitalisasi pelacakan dampak lingkungan. Sementara PT Koop Kopi Indonesia bertanggung jawab pada penyerapan hasil panen, pengendalian mutu pascapanen, serta membangun rantai pasok yang transparan.
Model tersebut telah membawa kopi organik Kintamani menembus pasar ekspor premium, termasuk Jepang, serta memasok jaringan kedai kopi internasional. Sebagian keuntungan usaha kemudian dikembalikan untuk mendukung program sosial dan penguatan tata kelola berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).
Petani Terapkan Pertanian Organik
Wakil Kelian Subak Tri Karya Nadi sekaligus petani kopi Desa Catur, Made Sukayana, mengatakan penerapan pertanian organik tidak hanya meningkatkan kualitas kopi, tetapi juga memberikan manfaat bagi kesehatan petani dan kelestarian lingkungan.
“Pertanian organik memberikan saya bonus. Selain menjadi pekerjaan, juga membuat kami hidup lebih sehat,” katanya.
Saat ini ia mengelola kebun kopi seluas tiga hektare dengan sekitar 4.000 pohon kopi. Seluruh proses produksi dilakukan mulai dari pembibitan hingga panen.
“Dalam satu kali panen besar produksi kami bisa mencapai dua sampai tiga ton biji kopi,” ujarnya.
Untuk meningkatkan nilai tambah, petani juga mengolah hasil panen secara mandiri. Selain kopi kemasan, limbah kulit kopi dimanfaatkan menjadi teh kopi yang dipasarkan ke berbagai supermarket.
Melalui pendekatan Living Laboratory of the Future Coffee Economy, Desa Catur kini menjadi contoh bagaimana pelestarian lingkungan, perdagangan karbon, dan peningkatan kesejahteraan petani dapat berjalan secara beriringan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan ekosistem pertanian kopi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.Baiq





