Panen Raya Picu Deflasi Bali 0,51 Persen pada Juli 2026, Buleleng Catat Penurunan Terendah

Panen Raya Picu Deflasi Bali 0,51 Persen pada Juli 2026, Buleleng Catat Penurunan Terendah
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani.

DENPASAR – balinusra.com | Kondisi ekonomi Provinsi Bali menunjukkan tren positif pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali tanggal 3 Agustus 2026, Provinsi Bali secara bulanan pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar -0,51 persen (mtm).

Angka ini menunjukkan arah yang berbeda dari bulan Juni sebelumnya yang sempat mengalami inflasi sebesar 0,71 persen (mtm).

Penyebab Utama Deflasi: Melimpahnya Pasokan Komoditas Hortikultura

Penurunan harga-harga di pasar Bali didorong oleh melimpahnya stok pangan akibat musim panen. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, deflasi bulanan Provinsi Bali dipengaruhi oleh memasukinya periode panen beberapa komoditas hortikultura. Seperti bawang merah dan aneka cabai di Bali maupun secara Nasional.

Secara rinci, komoditas yang menjadi sumber utama deflasi pada Juli 2026 adalah cabai rawit, bawang merah, cabai merah, daging ayam ras, dan buncis. Meski demikian, ada beberapa faktor yang menahan laju deflasi lebih dalam.

“Deflasi yang lebih rendah tertahan oleh peningkatan harga bensin, beras, dan kenaikan biaya sekolah beberapa jenjang pendidikan (TK, SD, SMP, SMA),” jelas Achris Sarwani di Denpasar, Selasa (4/8/2026).

Data Spasial: Buleleng Pimpin Penurunan Harga di Bali

Secara spasial, seluruh wilayah IHK (Indeks Harga Konsumen) yang terdiri dari 4 Kabupaten/Kota di Bali mengalami deflasi bulanan. Kabupaten Buleleng mencatatkan angka deflasi terdalam atau terendah di Bali.

Data deflasi di Bali per Juli 2026, Kabupaten Buleleng deflasi -0,91 persen (mtm) atau inflasi tahunan 1,89 persen (yoy). Kabupaten Badung Ddeflasi -0,59 persen (mtm) atau inflasi tahunan 2,04 persen (yoy).

Kemudian, Kabupaten Tabanan deflasi -0,56 persen (mtm) atau inflasi tahunan 2,54 persen (yoy). Serta Kota Denpasar deflasi -0,30 persen (mtm) atau inflasi tahunan 2,77 persen (yoy).

Inflasi Tahunan Bali Lebih Rendah dari Nasional

Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali juga mengalami penurunan yang signifikan, dari 3,27 persen (yoy) pada Juni 2026, menjadi 2,42 persen (yoy) pada Juli 2026.

“Capaian tersebut lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 2,88 persen. Serta berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen,” terang Achris.

Bank Indonesia Provinsi Bali memberikan apresiasi atas langkah strategis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali melalui penguatan pemantauan harga, dan intensifikasi operasi pasar.

Upaya ini fokus pada strategi 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Implementasi Nyata Melalui GPIPS Balinusra 2026

Salah satu implementasi nyata adalah melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026. Gerakan ini mencakup Gerakan Pangan Murah (GPM) serta optimalisasi kerjasama antar daerah melalui Perumda Pangan.

Namun, Achris juga mengingatkan beberapa risiko kedepan tetap perlu diwaspadai. Seperti tingginya permintaan selama high season wisatawan mancanegara (Juli-September). Ketidakpastian cuaca akibat potensi El Nino kuat yang dapat mengganggu produksi pertanian. Serta tingginya biaya angkutan barang global yang menekan harga barang impor.

Melalui sinergi berbagai pihak, inflasi Bali pada tahun 2026 diprakirakan akan tetap stabil dan terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5%±1 persen. Baiq