Model AIM Heal: Solusi Inovatif Reduksi Stres Kerja Gen Z dan Milenial di Industri Pariwisata

Model AIM Heal Solusi Inovatif Reduksi Stres Kerja Gen Z dan Milenial di Industri Pariwisata
Foto bersama usai ujian terbuka promosi doktor, Rabu (1/7/2026) di Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Udayana.

DENPASAR – balinusra.com | Tekanan kerja di industri pariwisata yang tinggi menuntut adanya strategi pengelolaan kesehatan mental yang tepat. Menjawab tantangan tersebut, I Putu Dharmawan Pradhana, SH., MM., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), resmi meraih gelar Doktor setelah mempertahankan disertasinya mengenai model healing bagi karyawan muda di Universitas Udayana, Rabu (1/7/2026).

Dalam penelitiannya yang berlokasi di Denpasar dan Badung, Pradhana memperkenalkan sebuah kebaruan (novelty) berupa model Adaptive Intergenerational Emotional Healing (AIM Heal). Model ini dirancang khusus sebagai strategi adaptif untuk mengelola stres kerja lintas generasi, terutama bagi Generasi Z dan Milenial.

Tujuan Utama Model AIM Heal

Tujuan utama dari AIM Heal adalah menciptakan coping strategy yang tidak hanya mampu mereduksi stres, tetapi juga mendorong pertumbuhan individu, keberlanjutan kerja. Hingga tercapainya kondisi dynamic homeostasis.

Data penelitian menunjukkan bahwa sekitar 33 persen pekerja Generasi Z dan Milenial di sektor industri pariwisata mengalami tingkat stres yang cukup signifikan.

Hal ini dipicu oleh karakteristik industri pariwisata yang penuh tekanan, seperti target pekerjaan yang ketat dan deadline, tuntutan tinggi dari wisatawan. Serta dinamika interaksi sosial di lingkungan kerja.

Pradhana menjelaskan bahwa stres ini adalah kondisi psikologis negatif akibat interaksi dengan faktor eksternal. Namun dalam penelitiannya, kondisi ini belum mengarah pada gangguan kejiwaan berat.

“Fokus utamanya adalah membangun kesadaran akan kesehatan mental (mental health awareness) dan cara pekerja merespons stres tersebut,” jelas Pradhana.

Perbedaan Karakteristik: Gen Z vs Milenial

Salah satu temuan penting dalam studi ini adalah bahwa pendekatan healing tidak bisa dipukul rata atau digeneralisasi. Setiap generasi memiliki cara merespons tekanan yang berbeda.

Pradana menyebutkan, Generasi Z cenderung menunjukkan gejala seperti micro resignation. Sedangkan Generasi Milenial lebih banyak melakukan penyesuaian diri secara internal untuk mengurangi stres.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan program seragam seperti makan bersama atau outbound. Identifikasi pola stres berdasarkan karakteristik masing-masing generasi adalah kunci efektivitas healing,” jelas Pradhana.

Dukungan Institusi untuk Lingkungan Kerja Sehat

Sementara itu, Ketua Perdiknas, Dr. AAA. Eddy Supriyadinata Gorda, menyambut baik temuan ini. Pihaknya berharap ilmu tersebut dapat diimplementasikan di lingkungan Undiknas untuk membangun lingkungan kerja yang sehat. Ia menegaskan pentingnya menjadi mediator untuk meningkatkan ketahanan pegawai terhadap berbagai stresor.

“Harapan saya sederhana, setelah menjadi doktor beliau bisa menjadi mediator, bukan menjadi stresor. Jangan sampai orang yang meneliti stres justru menjadi penyebab stres,” ujarnya.

Saat ini, pihak yayasan terus mendukung peningkatan kualitas SDM. Sekitar 33 persen dosen di Undiknas sedang menempuh pendidikan doktor dengan skema bantuan pembiayaan maksimal enam orang setiap tahunnya. Baiq