Mengenang Prof. Gede Sri Darma: Sosok “The Young Leader” dan Rektor Termuda MURI yang Tutup Usia

Mengenang Prof. Gede Sri Darma Sosok The Young Leader dan Rektor Termuda MURI yang Tutup Usia
Prof. Ir. Gede Sri Darma, ST., MM., DBA, CFP IPU., ASEAN.Eng. semasa hidupnya. Foto: Istimewa

DENPASAR – balinusra.com | Dunia pendidikan tinggi di Bali sedang dirundung duka mendalam. Prof. Ir. Gede Sri Darma, ST., MM., DBA, CFP IPU., ASEAN.Eng., salah satu akademisi terbaik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, dilaporkan telah tutup usia pada Minggu (1/3/2026) dini hari.

Tokoh yang akrab disapa Prof. GSD ini berpulang dalam usia 57 tahun saat menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah akibat sejumlah gangguan kesehatan. Kepergian sosok yang dijuluki “The Young Leader” ini meninggalkan jejak prestasi gemilang di dunia manajemen dan pendidikan nasional.

Pihak keluarga melalui adik almarhum, Prof. Dr. Nyoman Sri Subawa (Rektor Undiknas saat ini), menyampaikan bahwa prosesi upacara pengabenan akan dilangsungkan pada Kamis, 5 Maret 2026. Upacara dijadwalkan mulai pukul 06.00 WITA bertempat di Krematorium Santha Yana, Jalan Cekomaria, Denpasar.

Semasa hidupnya, julukan “The Young Leader” bagi Prof. GSD bukan sekadar sematan biasa. Dr. AAN Eddy Supriyadinata Gorda (ESG), Ketua Perdiknas, mengenang mendiang sebagai pionir yang membuktikan bahwa kepemimpinan tidak dibatasi oleh usia.

Berdasarkan catatan sejarah, Prof. GSD berhasil meraih Rekor MURI sebagai rektor termuda saat dilantik memimpin Undiknas pada usia 36 tahun (23 Februari 2005).

Kemudian setahun berselang, di usia 37 tahun, ia dikukuhkan sebagai profesor, menjadikannya salah satu guru besar termuda di Indonesia pada masa itu.

Selama menjabat sebagai Rektor Undiknas selama tiga periode (2005–2019), Prof. GSD fokus pada transformasi digital dan internasionalisasi institusi.

Ia memiliki keyakinan kuat bahwa penguasaan teknologi adalah kunci agar pendidikan di Bali mampu bersaing di kancah global.

Slogannya yang terkenal, “Move to Global Digital”, menjadi landasan bagi generasi muda untuk maju tanpa melupakan akar budaya lokal.

Selain di dunia kampus, ia juga dikenal aktif sebagai pengamat ekonomi yang memberikan pemikiran strategis untuk pemulihan Bali pasca pandemi melalui digitalisasi UMKM.

Prof. GSD sebagai aktivis social yang terlibat aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, termasuk di pasemetonan Warga Pande Provinsi Bali. Serta asesor Nasional sebagai pakar di bidang ilmu manajemen yang diakui secara luas.

Pencapaian akademis Prof. GSD dibangun di atas fondasi pendidikan yang kuat. Ia merupakan lulusan Teknik Elektro Universitas Udayana (1993), melanjutkan studi S2 Manajemen di Universitas Gadjah Mada (1995). Serta meraih gelar doktor dari Southern Cross University, Australia (1999).

“Usia biologis beliau boleh jadi hanya 57 tahun. Tapi usia historis beliau tanpa batas karena jejak peninggalannya abadi,” pungkas ESG dalam kenangannya terhadap sang mentor yang dikenal rendah hati tersebut. Baiq