DENPASAR – balinusra.com | Seniman kontemporer asal Bali, Handy Saputra, kembali menyapa penikmat seni rupa melalui pameran tunggal bertajuk “The Dialogue Between The Moon and Its Halo” atau “Cengkerama Sang Bulan dengan Lingkaran Cahayanya”.
Berlangsung di Santrian Art Gallery Sanur, pameran ini mengajak publik menyelami kedalaman batin manusia. Sekaligus merefleksikan fenomena sosial, politik, psikologis, dan kemanusiaan melalui bahasa visual yang ekspresif.
Inspirasi Syair Kuno Gu Feng: Makna Filosofis Bulan dan Halo
Eksplorasi karya dalam pameran ini mengakar pada penggalan syair kuno karya penyair Tiongkok, Gu Feng, yang menggambarkan percakapan harmonis antara bulan dan lingkaran cahaya (halo) di sekelilingnya.
Dalam syair tersebut, bulan mempertanyakan kesetiaan cahaya yang selalu mengiringinya. Lalu sang cahaya menjawab bahwa kehadirannya bertujuan untuk membingkai dan melindungi pesona bulan agar tampak semakin anggun.
Filosofi tersebut menjadi landasan kuratorial utama pameran:
- Bulan dimaknai sebagai simbol kehidupan dan sosok manusia.
- Lingkaran Cahaya (Halo) merepresentasikan fenomena, pengalaman, serta berbagai dinamika sosial yang membentuk perjalanan hidup manusia.
Kebebasan Berekspresi Lewat Pendekatan Art Brut dan Outsider Art
Handy Saputra konsisten mengembangkan aliran Art Brut (seni mentah) dan Outsider Art. Yaitu praktik seni intuitif yang tumbuh di luar garis utama akademis seni rupa konvensional.
Berlatar belakang pendidikan manajemen bisnis, Handy menemukan kebebasan berkarya secara otodidak tanpa terikat batasan teknik kaku. Pendekatan ini melahirkan karya-karya yang spontan, emosional, liar. Sekaligus menyimpan refleksi mendalam.
Dalam visualisasinya, pengunjung disajikan figur-figur anonim tanpa identitas gender yang jelas, bentukan abstraksi. Serta topeng magis hingga benda-benda simbolis.
Fenomena Art Brut sendiri memiliki jejak penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia melalui nama-nama. Seperti Ni Nyoman Tanjung dari Bali dan Dwi Putro Mulyono (Pak Wi) dari Yogyakarta.
Eksplorasi Medium: Dari Tinta Tiongkok hingga Patung Porselin
Keluasan eksplorasi artistik Handy terlihat dari keragaman medium yang ia gunakan. Mulai dari tinta Tiongkok di atas kertas, cat akrilik di atas kanvas, ukiran kayu. Hingga seni cetak seperti sablon dan litografi. Pembuatan karya grafis tersebut juga mendapat dukungan dari studio profesional DEVFTO Printmaking Studio.
Selain karya dua dimensi, Handy juga menghadirkan patung porselin bertajuk The Weight of the Bird dan The Vigil of Crimson Spirit. Kedua patung ini mengajak penikmat seni melakukan perenungan filosofis mengenai pikiran, kesadaran. Serta perjalanan jiwa manusia melalui simbolisme burung dan roh (spirit).
Jika pada pameran tunggal sebelumnya seperti “The Audacity of Silent Brush” dan “The Dragonfly’s Ripples” Handy berfokus pada pencarian identitas personal, kini ia memperluas wilayah pengamatannya pada dinamika masyarakat global.
Beberapa karya yang menyuarakan pendekatan ini di antaranya:
- Match Making in China: Mengangkat fenomena perjodohan di Tiongkok dengan nada ironis dan melankolis.
- Two Men and A Dog: Menampilkan situasi psikologis tentang kesunyian dalam kehidupan sosial manusia.
Refleksi Hubungan Manusia dan Lingkungan Sosial
Pameran “The Dialogue Between The Moon and Its Halo” menjadi ruang kontemplasi bagi publik untuk melihat kembali hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, dan lingkungan sekitar.
Lewat pameran ini, Handy Saputra menegaskan bahwa seni bukan sekadar visual yang ditangkap oleh mata. Melainkan pesan filosofis yang mampu dibangkitkan dalam pikiran dan dirasakan oleh hati. rl





