ASITA Bali Dorong Pariwisata Regeneratif: Fokus Manfaat Budaya dan Lingkungan

ASITA Bali Dorong Pariwisata Regeneratif Fokus Manfaat Budaya dan Lingkungan
Pembukaan Musda XV ASITA BALI, Jumat (16/10/226).

BADUNG – balinusra.com | Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali, secara resmi mendorong transformasi paradigma industri wisata menuju pariwisata regeneratif (regenerative tourism). Orientasi ini bertujuan agar sektor pariwisata mampu memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat, kelestarian budaya. Serta lingkungan hidup di Bali.

Gagasan strategis tersebut ditegaskan oleh Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, dalam Musyawarah Daerah (MUSDA) XV ASITA Bali bertema “Repositioning The Future of Tourism” di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, Jumat (16/10/2026).

Konsep Pariwisata Regeneratif: Bukan Sekadar Jumlah Kunjungan

Menurut Winastra, MUSDA XV tidak hanya berfungsi sebagai forum pemilihan kepemimpinan organisasi. Momentum ini menjadi wadah penting untuk mengevaluasi arah industri perjalanan wisata di tengah dinamika perubahan perilaku wisatawan, kemajuan teknologi. Serta tuntutan kualitas destinasi berkelanjutan.

Pariwisata regeneratif tidak hanya berfokus pada pengurangan dampak negatif aktivitas pelesiran. Tetapi juga aktif menciptakan dampak positif agar kualitas destinasi semakin meningkat.

Pendekatan ini sangat relevan bagi Bali, mengingat sektor pariwisata terkait erat dengan keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas.

Mendorong Wisata Desa dan Ekonomi Lokal

Winastra menekankan bahwa peran anggota ASITA Bali tidak boleh terbatas hanya sebagai penjual atau distributor paket perjalanan. Agen perjalanan harus mampu mengarahkan wisatawan agar melakukan perjalanan yang lebih bermakna dan bertanggung jawab.

Langkah konkret yang didorong meliputi ajakan bagi wisatawan untuk mengunjungi dan beraktivitas di desa wisata. Membeli dan mengonsumsi produk local, menghormati kebudayaan setempat dan menjaga kelestarian lingkungan. Serta memperpanjang durasi tinggal (length of stay).

Melalui pola tersebut, pemerataan manfaat ekonomi pariwisata tidak lagi menumpuk di kawasan wisata utama saja. Melainkan menjangkau masyarakat desa dan pelaku usaha mikro lokal.

“Dari tourism yang hanya datang dan pergi, menjadi tourism yang datang, belajar, menghargai, berkontribusi, dan meninggalkan kebaikan,” kata Winastra.

Ia menambahkan, semangat “Repositioning The Future of Tourism” bertujuannya bukan semata-mata mempertahankan Bali sebagai destinasi dunia. Lebih jauh, ASITA ingin memastikan Bali tetap menjadi ruang hidup yang layak dibanggakan dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Komitmen Sosial Melalui Program ASITA Care

Selain fokus pada bisnis perjalanan wisata, ASITA Bali juga menunjukkan kepedulian sosial yang nyata melalui wadah ASITA Care. Program kemanusiaan ini mencakup penyaluran bantuan bagi korban bencana alam, pemberian beasiswa pendidikan. Serta program bedah rumah bagi warga kurang mampu di Bali.

Winastra menegaskan, aksi sosial ini adalah kontribusi nyata organisasi kepada masyarakat luas. “Tahun 2026 ini kami sudah memberikan empat bantuan bedah rumah Klungkung Karangasem,” katanya.

Melalui gelaran MUSDA XV ini, ASITA Bali menegaskan pesan utama bahwa keberhasilan masa depan pariwisata Bali tidak lagi hanya diukur dari angka statistik kunjungan wisatawan. Melainkan dari dampak positifnya terhadap pelestarian lingkungan, penguatan budaya, dan kesejahteraan Masyarakat. Baiq