GIANYAR, balinusra.com – Panggung seni Geoks di Desa Singapadu, Gianyar, baru saja menjadi pusat perhatian lewat pementasan tari ritual bertajuk Svara Bumi.
Karya ini bukan sekadar pertunjukan seni biasa, melainkan sebuah dialog budaya mendalam yang menghubungkan tradisi spiritual masyarakat Bali dengan akar budaya suku asli Australia, Aborigin.
Pementasan ini merupakan buah pemikiran Ayu Linda Gayatri, seorang Art Director yang telah delapan tahun malang melintang membangun jejaring seni di Australia.
Menariknya, Ayu Linda memiliki latar belakang yang unik. Ia adalah lulusan IT di Bali yang sempat berkarier sebagai juru masak profesional di Australia, sebelum akhirnya kembali pada panggilan jiwanya di dunia seni tari.
Proyek ambisius ini didukung penuh secara akademis melalui kemitraan dengan University of New South Wales (UNSW). Melalui perantara Prof. Dr. Manolette Mora, pakar etnomusikologi sekaligus anggota UNESCO, Svara Bumi direncanakan untuk dipentaskan di Australia.
Visi jangka panjang dari kolaborasi ini mencakup rencana strategis pembangunan Pendopo Bali di Australia sebagai pusat interaksi lintas budaya bagi akademisi dan seniman.
Misi Universal Svara Bumi
Menurut Ayu Linda, seni pertunjukan Bali kini telah bertransformasi menjadi alat diplomasi budaya yang efektif untuk menyuarakan isu-isu global. Terutama pelestarian lingkungan.
Lahir dari kegelisahan terhadap kerusakan ekosistem, Svara Bumi membawa misi universal tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, pencipta, dan alam.
Pertunjukan ini mempertemukan dua filosofi besar: Tri Hita Karana dari Bali dan konsep Country milik suku Aborigin. Keduanya sama-sama memuliakan tanah sebagai entitas yang hidup dan sakral.
Ayu Linda menegaskan bahwa melalui gerak tari, ia ingin mengingatkan kembali akan “suara” bumi yang sering terabaikan oleh modernitas.
Secara artistik, pertunjukan ini mengeksplorasi lima alur dramatik, yaitu:
- Ritual
- Kegembiraan
- Pemberontakan
- Bencana
- Mediasi.
Proses Kreatif Inovatif di Era Digital
Keberhasilan pementasan ini juga didukung oleh Arada Bali Entertainment yang didirikan Ayu Linda bersama suaminya, Kadek Ambarajaya.
Dalam proses kreatifnya, mereka menggandeng kelompok Tunggaling Semesta dan maestro kecak muda. Serta Dewa Mamet, yang memberikan sentuhan vokal ritmis magis pada pertunjukan tersebut.
Meskipun latihan fisik secara langsung hanya dilakukan selama dua minggu, konsep dan sinergi antar penari dibangun melalui diskusi daring lintas negara selama berbulan-bulan.
Salah satu penampil, Echa Laksmi mengungkapkan, proyek ini terasa seperti “panggilan alam” yang menyatukan para seniman secara organik meski dalam persiapan yang singkat.
Sebagai pelengkap, acara ini juga menampilkan tarian klasik seperti Tari Pendet dari Sanggar Nrithya Graha, Legong Brihannala dari Arjuna Production. Serta Tari Kembang Ura dari Tanzer Dance Company, yang mempertegas keharmonisan antara inovasi kontemporer dan tradisi asli Bali. rl/Baiq












