DENPASAR – balinusra.com | Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Handayani Denpasar menggelar wisuda ke-42 sekaligus memperingati Dies Natalis ke-46, pada Jumat (7/11/2025) di Prama Hotel, Sanur.
Dalam kesempatan tersebut, STIMI melepas lulusan dari berbagai konsentrasi studi, antara lain Manajemen Keuangan, Manajemen Pemasaran, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Perkantoran, Manajemen Bisnis Pariwisata, dan Sekretaris.
Hingga saat ini, STIMI Handayani telah meluluskan 8.588 alumni yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian besar dari mereka telah bekerja di instansi pemerintah dan swasta, maupun mengembangkan usaha secara mandiri.
Ketua STIMI Handayani Denpasar, Dr. Dra. Ni Ketut Karwini, M.M., menyampaikan bahwa berdasarkan hasil tracer study, mayoritas lulusan telah terserap di dunia kerja, bahkan ada yang sudah bekerja sebelum menyelesaikan studi.
“Kualitas lulusan STIMI Handayani saya yakin mampu bersaing di pasar global. Banyak yang bekerja di instansi pemerintah, swasta, maupun berwirausaha, bahkan sampai ke luar negeri,” jelasnya.
Karwini juga berpesan agar seluruh lulusan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh di bangku kuliah ke dalam dunia kerja.
“Harapan saya, kemampuan hardskills dan softskills yang telah saudara miliki dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya. Fokuslah pada profesi, layani dengan tulus dan jujur, berpikir positif, serta pegang teguh etika dalam setiap langkah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pendidikan STIMI Handayani Denpasar, Dr. Ida Bagus Radendra Suastama, menegaskan bahwa kampus berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.
“Banyak mahasiswa kami yang sudah bekerja sebelum wisuda. Itu menunjukkan kesiapan mereka menghadapi dunia profesional,” ujarnya.
Radendra menekankan, keberhasilan seorang sarjana bukan diukur dari gelar akademik semata, melainkan dari manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.
“Pengetahuan tidak hanya bertambah karena gelar, tetapi karena penerapan nilai-nilai yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar,” katanya.
Terkait perkembangan teknologi, Radendra menilai tantangan era kecerdasan buatan (AI) harus dihadapi dengan kesiapan keterampilan yang relevan.
“Kalau bukan orang IT, minimal lulusan harus menjadi AI user yang handal. Ketika terjadi disrupsi pekerjaan, mereka tetap bisa beradaptasi. Ilmu manajemen itu luas, dan mahasiswa manajemen harus mampu menyesuaikan diri,” tegasnya.
Dengan program ‘Kampus Berdampak’ dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), STIMI Handayani menegaskan komitmennya untuk menjadi perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi masyarakat.
“Kami tidak ingin menjadi menara gading yang hanya mencetak sarjana tanpa arah. Di STIMI, kuliah bukan sekadar mencari ilmu, tetapi membentuk cara berpikir dan pola kerja. Gelar bukan jaminan untuk sukses, tetapi kualitas dan keterampilanlah yang menentukan,”pungkasnya. Baiq





