DENPASAR-balinusra.com |Kisah cinta tragis Nyoman Santosa sukses menghipnotis penonton dalam pergelaran Teater Jungut Sari berkolaborasi dengan Taksu Bhuana pada ajang Bulan Bahasa Bali (BBB) VIII.
Pentas yang berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Selasa (10/2/2026), itu menghadirkan drama yang mengalir emosional, menyentuh sekaligus menghibur.
Para siswa SMA Negeri 1 Sukawati yang tergabung dalam Teater Jungut Sari membawakan kisah yang diadaptasi dari novel karya Djelantik Santha berjudul Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang. Penonton dibuat larut dalam alur cerita—sesekali terdiam haru menyaksikan akhir cinta yang tragis, namun tak jarang pula tertawa karena balutan adegan kekinian yang ringan dan jenaka.
Pembina Teater Jungut Sari, Kadek Wahyu Ardi Putra, mengakui proses alih wahana dari novel ke panggung menjadi tantangan tersendiri. Sepuluh bab dalam novel harus dipadatkan menjadi drama berdurasi 45 menit hingga satu jam tanpa menghilangkan kompleksitas cerita.
“Proses pengalihwahanaan ini cukup menantang. Kami menyiasatinya dengan permainan simbol dalam adegan tertentu, namun tetap menjaga alur cerita dari awal hingga akhir sesuai ruh judulnya. Konflik cinta dua kali ditinggal mati tetap kami hadirkan sebagai inti lebur ajur itu,” jelas Wahyu yang juga bertindak sebagai penulis naskah dan sutradara.
Meski mengangkat tema cinta yang pilu, pertunjukan tidak sepenuhnya dibalut kesedihan. Cerita mengalir alami sebagaimana dalam teks novel. Salah satu adegan yang kuat justru hadir saat digambarkan kerakusan manusia membabat hutan demi perkebunan sawit. Banjir yang kemudian melanda menjadi simbol konsekuensi, merenggut nyawa Gusti Ayu Jinar, kekasih Nyoman Santosa.
Namun di balik tragedi itu, drama ini menegaskan keteguhan karakter utama dalam meraih cita-cita menjadi guru. Nyoman Santosa digambarkan tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, kehilangan ayah dan kakak laki-laki, serta harus membantu ibunya mengurus sawah dan ternak. Keinginannya melanjutkan pendidikan sempat tak direstui sang ibu karena beban keluarga.
“Kerja keras dan keteladannya menjadi guru adalah sisi positif yang kami tonjolkan. Ia akhirnya menamatkan pendidikan di SGB dan SGA, lalu kembali sebagai guru. Nilai perjuangan itu yang ingin kami sampaikan, selain persoalan cinta,” ujar Wahyu.
Drama ini juga merefleksikan persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari konflik kasta hingga kehilangan orang tercinta. Namun alih-alih menjerumuskan pada keputusasaan, kisah lebur ajur justru ditawarkan sebagai ruang pembelajaran untuk menyikapi persoalan hidup secara bijak.
“Pesan kami sederhana, anak-anak muda harus mampu menyikapi setiap persoalan secara positif, tidak tertekan, dan tidak mengambil jalan pintas,” tegasnya.
Kolaborasi energi pemain muda dengan kekuatan cerita klasik itu menjadikan panggung Ksirarnawa malam itu tak sekadar pertunjukan, melainkan perenungan tentang cinta, kehilangan, dan keteguhan dalam meraih cita-cita. rl












