Seniman Bali Nyoman Handi Yasa Sulap Kayu Bekas Pantai Jadi Karya Bernilai Tinggi

WhatsApp Image 2025-12-20 at 13.20.25_aa19a132
Karya Nyoman Handi Yasa yang dipamerkan di Sudakara Artsapce, Jumat (19/12/2025) Foto : Baiq

DENPASAR – balinusra.com | Seniman lukis asal Tejakula, Buleleng, Nyoman Handi Yasa, mengolah kayu dan ranting pohon bekas menjadi karya seni bernilai tinggi. Material alam tersebut ia pungut dari pesisir pantai, sungai, dan berbagai lokasi lain, lalu dikumpulkan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sebelum diolah menjadi karya seni.

Proses kreatif tersebut terungkap dalam pembukaan pameran tunggal bertajuk Cycles & Journeys, yang digelar di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort, Sanur, Jumat (19/12/2025).

Handi Yasa mengungkapkan, salah satu lokasi yang kerap menjadi sumber material karyanya adalah Pantai Lembeng, Gianyar, selain beberapa sungai di Bali. Menurutnya, kayu-kayu tersebut diangkut ketika ia mendapatkan inspirasi visual maupun gagasan artistik.

Melalui karyanya, Handi Yasa menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam semesta. Ia menyinggung filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.

“Dengan menjaga lingkungan dan alam semesta, manusia juga akan terjaga. Keseimbangan itu penting untuk meminimalisir terjadinya bencana,” ujarnya.

Karya-karya Handi Yasa yang beraliran kontemporer menampilkan eksplorasi warna, tekstur, dan bentuk yang lahir dari pengamatannya terhadap alam. Ia mengaku sebagian besar karyanya terinspirasi dari lingkungan sekitar.

“Saya lebih konsen pada alam. Hampir semua karya saya terinspirasi dari sana. Harapannya, lewat pameran ini orang bisa terinspirasi dan termotivasi untuk menjaga lingkungan,” imbuhnya.

Pembukaan pameran tunggal Nyoman Handi Yasa di Sudakara Artsapce, Jumat (19/12/2025) Foto : Baiq

Pameran Cycles & Journeys secara konseptual merefleksikan ritme kehidupan, pergerakan, serta transformasi yang membentuk pengalaman manusia, baik yang kasatmata maupun yang tidak terlihat. Melalui bahasa visual khas Handi Yasa, pameran ini mengajak pengunjung menelusuri siklus alam, ingatan, dan perjalanan spiritual yang berulang.

Pameran tersebut dibuka secara resmi oleh Alexander Ketjil Kosasie, serta dilengkapi refleksi tertulis dari penulis seni I Made Susanta Dwitanaya, yang mengulas kedalaman konseptual dan narasi karya-karya yang dipamerkan.

Diselenggarakan di Sudakara ArtSpace, ruang khusus seni kontemporer dan tradisional di lingkungan Sudamala Resort, Sanur, pameran ini menegaskan komitmen resor dalam mendukung dan merayakan seni serta budaya Indonesia melalui ruang dialog kreatif yang bermakna. Baiq

TERP HP-01