DENPASAR – balinusra.com | Di ruang ujian Program Pascasarjana Universitas Udayana (Unud), Selasa (27/1/2026), suasana terasa berbeda. Bukan hanya karena dua disertasi dipertahankan pada hari yang sama, tetapi karena dua doktor baru itu adalah pasangan suami istri, I Gusti Ngurah Oka Ariwangsa, SE., MM., dan Kadek Wulandari Laksmi, SE., MM.
Di hadapan penguji, keduanya menutup perjalanan panjang studi doktoral yang dijalani bersamaan di kampus yang sama, pada hari yang sama, dengan semangat yang juga sama. Prestasi itu terasa semakin istimewa karena Oka Ariwangsa dan Laksmi sama-sama mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar.
Oka Ariwangsa mempertahankan disertasi “Peran Perceived Product Benefit, Trust, dan Risk Perception dalam Meningkatkan Pengaruh Financial Knowledge terhadap Insurance Purchase Decision.” Ia menyoroti bagaimana keputusan membeli asuransi tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan keuangan, tetapi juga dipengaruhi aspek psikologis dan persepsi individu.
“Ketidakpastian dimasa mendatang yang dapat menimbulkan dampak signifikan terhadap stabilitas finansial individu atau keluarga. Asuransi berperan sebagai instrument keuangan yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap risiko dan ketidakpastian,” jelasnya.
Melalui penelitiannya, Oka Ariwangsa menganalisis keputusan pembelian asuransi yang dipengaruhi literasi keuangan, dengan manfaat produk sebagai variabel mediasi serta kepercayaan dan persepsi risiko sebagai faktor moderasi.
“Keputusan pembelian asuransi sebagai transaksi finansial yang berdasarkan dorongan psikologis, mencerminkan upaya kognitif dan perilaku individu untuk menciptakan rasa aman serta stabilitas dalam menghadapi realitas yang tidak dapat diprediksi,” imbuhnya.
Sementara itu, sang istri, Kadek Wulandari Laksmi, mengangkat realitas pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) di Bali melalui disertasi berjudul “Pengaruh Keputusan Keuangan dan Kinerja Keuangan terhadap Keberlanjutan Usaha: Budaya Catur Paramitha sebagai Pemoderasi (Studi pada Industri Kecil Menengah atau IKM di Bali).”
Laksmi menilai, keberlanjutan IKM tidak hanya bergantung pada kondisi pasar, tetapi juga pada ketepatan pengambilan keputusan keuangan dan kemampuan menjaga kinerja usaha di tengah keterbatasan manajerial.
“Penelitian ini bertujuan mengenali sisi pengaruh kepuasan keuangan secara khusus keputusan investasi dan keputusan pendanaan terhadap keberlanjutan usaha yang dimediasi oleh kinerja keuangan dan untuk mengeksplorasi peran budaya lokal catur paramitha sebagai variabel moderasi,” kata mahasiswi angkatan 2021 ini.
Penelitian Laksmi melibatkan 120 IKM se-Bali yang telah memperoleh legalitas usaha melalui dana Dekonsentrasi Direktorat Jenderal IKM, dengan pendekatan kuantitatif dan pengujian hipotesis.
Di balik capaian akademik tersebut, perjalanan studi doktoral keduanya diwarnai dinamika kehidupan rumah tangga. Sebagai pasangan suami istri sekaligus orang tua dari dua anak, mereka berbagi peran, waktu, dan energi antara keluarga, pekerjaan, dan tuntutan akademik.
“Kami saling dukung. Menikmati sebuah hubungan di rumah, tempat kerja, di kampus dan dimana saja,” ujar Oka Ariwangsa.
Rektor Undiknas, Prof. Dr. Ir. Nyoman Sri Subawa, ST., S.Sos., IPM., ASEAN Eng., yang hadir dalam ujian terbuka tersebut, menilai capaian keduanya sebagai inspirasi. Menurutnya, keberhasilan pasangan ini menunjukkan bahwa cita-cita dapat diraih bersama dan berdampak pada kualitas kehidupan keluarga serta organisasi.
Dengan bertambahnya dua doktor baru, persentase dosen bergelar doktor di Undiknas kini mencapai 60 persen. Ke depan, pihak kampus menargetkan seluruh dosen berkualifikasi doktor dan mendorong lahirnya lebih banyak guru besar.
“Meski demikian, pemerataan doktor dan guru besar di masing-masing prodi perlu dilakukan. Biar tidak numpuk di prodi tertentu. Terutama [prodi] yang baru-baru itu kami genjot lagi kualifikasi dosennya,” kata Sri Subawa.
Ketua Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas), Dr. AAN. Eddy Supriyadinata Gorda, juga melihat kisah Oka Ariwangsa dan Laksmi sebagai refleksi kekuatan relasi dalam dunia pendidikan. “Begitulah semestinya cinta bekerja,” kata ESG, sapaannya.
Menurut ESG, cinta berarti saling memberi dan menghadirkan kebahagiaan, bukan meniadakan satu sama lain. Prinsip ini pula yang menjadi spirit Perdiknas dalam mengelola institusi pendidikan.
“Tidak ada masalah suami istri atau mengabdi di unit-unit Undiknas. Yang penting bisa memberikan kontribusi. Kan ada sistem yang ngatur itu,” jelasnya.
Saat ini, Undiknas masih memiliki 23 dosen yang sedang menempuh pendidikan doktoral. Sejak ESG menjabat Ketua Perdiknas, telah lahir 43 doktor. Dengan tambahan dua doktor baru, jumlah dosen bergelar doktor kini mencapai 64 orang.
Ke depan, sesuai arahan rektor, dosen Undiknas didorong menempuh studi doktoral di perguruan tinggi ternama luar negeri atau perguruan tinggi swasta di luar Bali yang masuk 10 besar nasional.
“Gebrakan ini untuk mendukung program internasionalisasi kampus,” pungkas ESG. Red












