Polemik Nyepi di Tilem Kesanga, Pakar Wariga Minta Kajian Komprehensif

Ida Bagus Dwi Prayoga.
Ida Bagus Dwi Prayoga.

DENPASAR – balinusra.com | Wacana yang muncul dalam Pesamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat 2025 berkaitan dengan pelaksanaan hari raya Nyepi yang dikembalikan bertepatan dengan Tilem Kesanga menuai polemik di media sosial.
Tidak sedikit yang mempertanyakan wacana tersebut karena belum didasari kajian yang komprehensif.

Tanggapan juga datang dari alumni Universitas Hindu Indonesia yang juga sebagai tenaga pengajar Wariga di UNHI yakni Ida Bagus Dwi Prayoga S.Pd.,M.Sos. Menurutnya, di dalam lontar-lontar yang menjelaskan perihal pelaksanaan upacara agama di Bali, khususnya Wariga memang banyak yang saling bertentangan, atau dalam istilah Balinya “Saling Matinjakan”.

Oleh sebab itu, tidak bisa hanya menggunakan satu atau dua sumber saja, lalu menganggap sumber tersebut yang paling benar, mesti dikomparasikan dengan berbagai sumber dan sudut pandang, termasuk pemahaman perihal wawasan kesemestaan atau kosmologis.

Setidaknya, lanjut penekun Wariga yang akrab disapa Gus Dwik, yang harus diketahui dalam proses penentuan hari besar berdasarkan perhitungan semesta itu ada tiga yakni rasio, mistik, dan respon semesta.

Polemik saat ini menyebutkan Nyepi mestinya saat Tilem dan Tawur Kesanga diselenggarakan pada saat purwani (sebelum tilem) hal itu termuat dalam beberapa lontar seperti Sundari Gama dan Swamandala, pertanyaannya apakah betul seperti itu?

Ia mengajak meninkau lagi, karena polemik ini sebenarnya tidak terjadi saat ini saja, namun telah dibahas dan ditinjau oleh para pakar dan tokoh Hindu di Bali seperti Ida Pedanda Gede Wayahan Sidemen, Ida Bagus Mantra, Ida Bagus Oka Punia Atmaja, Ida Bagus Dosther, Cokorda Rai Sudharta, Ida Bagus Alit dan Nyoman Merta.

“Beliau menulis buku Upadesa yang disusun tahun 1964, disebutkan pada Tileming Kasanga adalah hari Pangerupukan diadakan upacara Bhuta Yadnya dan Nyepi jatuh sehari setelah Tileming Kasanga yaitu pada Pananggal 1 sasih Kadasa,” jelasnya.

Tokoh lain seperti I Gusti Bagus Sugriwa dalam artikelnya berjudul Hari Raya Nyepi yang dimuat dalam Majalah Indonesia no. 4, April 1953, menyebutkan upacara Macaru (Bhuta Yadnya) dilaksanakan pada Tilem sasih Kasanga dan besoknya setelah matahari terbit dilaksanakan Nyepi (Sipeng). Artikel tersebut diterbitkan oleh Yayasan Dharma Sastra th 2008 dalam buku berjudul Karya Tercecer I Gusti Bagus Sugriwa.

Tokoh-tokoh terdahulu, lanjut Gus Dwik, telah meninjau keanehan mengenai Nyepi pada saat Tilem dan Tawur pada saat purwani. Namun jika ditinjau dari mistik padewasan pada saat purwani tidak boleh melaksanakan aktivitas apapun pada saat itu.

Lalu ditinjau dari rasio astronomi pelaksanaan Tawur Kesanga itu mencari titik keseimbangan, titik keseimbangan itu terjadi pada saat matahari ada di tengah ekuator garis khatulistiwa. Kapan itu terjadi?

“Dari tanggal 2-31. Yang paling pas adalah pada 21 Maret pada saat itulah terjadi peristiwa spirit yang sangat kuat. Hal ini juga dikuatkan dengan teks Negarakertagama,” paparnya.

Menurut Gus Dwik, perhitungan rasio, mistik, dan implikasi dari berbagai sudut pandang ini tidak bisa dipatahkan dengan satu atau dua sumber saja. Wariga bukan memperhitungkan ini salah, itu benar, akan tetapi Wariga mengajarkan untuk menyelami waktu.

“Jadi jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai Kesanga kita harus menyelami waktu. Ketika paham, pelaksanaannya hendak dilakukan dengan susila purna sedanam. Jika pelaksanaannya dilakukan dengan standar operasional prosedur yang benar saya yakin semesta tersentuh dengan getaran energi kita. Jika hanya dilakukan semata karena ambisi maka semesta meresponnya dengan yang sama. Ingat hukum wariga: energi sejenis menarik yang sejenis the law of attraction,” tutupnya. Tim

TERP HP-01