Pecah Telur, Prof. Evi Triandini Guru Besar Pertama ITB STIKOM Bali

IMG-20260208-WA0007

Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan mengukuhkan Prof. Tri Evi Triandini S.P., M.Eng, Sabtu (7/2/2026). 

 

DENPASAR – balinusra.com | ITB STIKOM Bali mengukuhkan Prof. Dr. Tri Evi Triandini, S.P., M.Eng., sebagai guru besar bidang analisis perangkat lunak, Sabtu (7/2/2026), di Kampus setempat.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Evi memaparkan, penelitian yang dilakukan menjembatani kebutuhan penyandang disabilitas melalui alat prostetis dan teknologi informasi untuk kemandirian pasien.

Inovasi yang ditawarkan merupakan kerangka telerehabilitasi prostetik yang berkesinambungan. Prof. Evi menambahkan, kerangka yang dibangun sebagai arsitektur moduler yang mengintegrasikan ke dalam ekosistem digital.

“Salah satunya memberdayakan pasien melalui edukasi dan pemantauan mandiri sehingga rehabilitasi tidak sepenuhnya bergantung pada kunjungan fisik yang sporadis,” ujar Evi.

Evi juga mendorong dosen tingkat doktoral di ITB STIKOM Bali untuk meraih jabatan fungsional tertinggi jabatan dosen.

Melalui keahliannya di bidang analisis perangkat lunak, Evi akan mengembangkan penelitiannya secara lebih lanjut dimulai dari Denpasar. Saat ini, dia mengatakan, sudah menjalin kerjasama dengan salah satu Rumah Sakit di Thailand dengan tujuan hilirisasi riset.

Rekor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan mengatakan, pengukuhan guru besar ini menjadi yang pertama di ITB STIKOM Bali.

“Saat ini momen pecah telur guru besar yang dimiliki kampus ITB STIKOM Bali, kami sangat berbangga atas pencapaian jabatan fungsional tertinggi yang diraih Prof Evi,” kata Dadang Hermawan.

“Sekaligus, menurut pengamatan saya, Prof Evi menjadi Profesor pertama bidang IT di PTS yang ada di Bali,” tambahnya.

Dewan Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti (WDS) Prof. Dr. I Made Bandem menambahkan, sejak awal, ITB STIKOM Bali sudah menerima mahasiswa dengan disabilitas dan penyandang difabel.

“Sekarang bagaimana kita memanusiakan manusia, karena setiap orang yang lahir pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Tugas kampus sekarang harus mampu merealisasikan berbagai aksesibilitas untuk menerima mahasiswa dengan kekurangan fisik,” jelas Made Bandem.rl/Baiq

TERP HP-01