MATARAM – balinusra.com | Kelompok Tani (Poktan) Pelita yang berlokasi di Dusun Lempenge, Desa Rempek, Kecamatan Gangga, mencatatkan keberhasilan dalam membudidayakan Padi Gogo pada musim tanam pertama (MT 1) awal tahun 2026.
Meskipun dilakukan di lahan kering, namun uji coba perdana ini mampu menghasilkan produksi gabah hingga mencapai 6 ton per hektar.
Kepala Dusun Lempenge, Fahrur Rozy, S.Sos., mengatakan, pencapaian ini merupakan kontribusi nyata bagi program ketahanan pangan. Terutama dalam optimalisasi lahan kering yang sudah puluhan tahun tidak ditanami varietas padi gogo.
Tanpa Pupuk Subsidi Hasil Panen Perdana Padi Gogo Lampaui Ekspektasi
Berdasarkan proses ubinasi yang dilakukan bersama Dinas Ketahanan Pangan Lombok Utara, total produksi dari 4 hektare lahan kering di Lempenge mencapai 24 ton gabah.
“Menariknya, budidaya ini dilakukan hampir tanpa penggunaan pupuk, karena para petani belum mendapatkan alokasi bantuan pupuk dari pemerintah,” kata Fahrur Rozy, Kamis (9/4/2026).
Keberhasilan ini diawali dari kolaborasi antara Poktan Pelita dengan petani Desa Segara Katon yang meminjamkan kuota bibit dan obat-obatan untuk uji coba di lahan Lempenge.
Penanamannya dilakukan pada akhir tahun 2025 dengan memanfaatkan periode musim hujan, hingga akhirnya padi siap dipanen pada Rabu, 8 April 2026.
Melihat potensi yang besar, Poktan Pelita berencana meningkatkan luas area tanam pada tahun 2027 mendatang dengan target minimal 10 hektar.
Berdasarkan koordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), kelompok tani ini diprediksi 99 persen akan mendapatkan bantuan bibit Padi Gogo dan sarana produksi (saprodi) untuk musim tanam berikutnya.
Sebelumnya, Poktan Pelita juga telah sukses menjadi percontohan (demplot) untuk penanaman bawang merah dalam program pengendalian inflasi tahun 2025.
Kendala Infrastruktur dan Tingginya Biaya Pengairan
Di balik kesuksesan panen tersebut, lanjut Fahrur, para petani di Dusun Lempenge sangat mengharapkan dukungan pemerintah pusat maupun daerah terkait penyediaan infrastruktur. Beberapa kendala utama yang para petani hadapi di lapangan antara lain akses jalan menuju lahan pertanian sangat berisiko terdampak banjir saat intensitas hujan tinggi.
“Minimnya jumlah sumur bor dan jaringan pipa menuju lahan petani juga menjadi salah satu kendala. Serta tingginya biaya operasional. Untuk mengairi lahan menggunakan outlet sumur bor yang ada, petani harus merogoh kocek sekitar Rp 55.000 per jam guna membeli bahan bakar solar,” terangnya.
Selain perbaikan infrastruktur, masyarakat juga mengusulkan adanya program cetak sawah baru sebagai langkah akselerasi pertanian di wilayahnya. Untuk mengisi waktu sebelum musim tanam berikutnya, sebagian petani beralih menanam palawija di lahan bekas panen padi gogo tersebut. Baiq





