Menghitung Kekalahan di Hari Kemenangan Dharma: Refleksi Galungan November 2025

Raka Prama Putra
Raka Prama Putra. Foto Dokumen

GALUNGAN selalu datang setiap 210 hari sekali—Rabu Kliwon Dungulan—sebuah siklus sakral dalam kalender Wuku yang mengingatkan umat Hindu Bali tentang kemenangan Dharma melawan Adharma. Setiap enam bulan, penjor berdiri, banten dihaturkan, dan umat Hindu Bali kembali meneguhkan keyakinan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya untuk berjaya.

Namun, di balik perayaan kemenangan itu, terselip pertanyaan besar: Apakah orang Bali hari ini benar-benar sedang berada pada pihak yang menang? Atau justru sedang perlahan menghitung kekalahan di tengah arus perubahan global?

Galungan mengajarkan bahwa Dharma menang, tapi zaman memperlihatkan bahwa jiwa Bali sedang bernegosiasi keras untuk bertahan. Artikel ini mencoba mengurai “kekalahan-kekalahan halus” yang dirasakan masyarakat Bali, tanpa mengurangi makna Galungan sebagai momentum spiritual untuk bangkit.

  1. Kekalahan Mempertahankan Tanah Bali

Tanah bagi orang Bali bukan sekadar aset. Ia adalah warisan leluhur, ruang hidup, dan bagian dari identitas. Peradaban Bali sangat erat kaitannya dengan tanah dan budaya pertaniannya. Dengan subak sebagai warisan budaya yang telah mendunia.

Akan tetapi, dalam dua dekade terakhir:

  • Harga tanah di Bali melonjak tak terbendung. Di beberapa lokasi strategis pariwisata dan perkotaan, harganya menyentuh di atas satu miliar rupiah per are.
  • Pembelian tanah oleh investor luar meningkat. Ada pula penggunaan properti atau tanah di Bali untuk kegiatan pencucian uang, dan beberapa kasus telah terungkap.
  • Lahan pertanian di Bali terus tersingkir demi vila, hotel, kaveling perumahan, dan peruntukan lahan lainnya. Kondisi ini membuat luasan sawah terus menyempit, dan subak kian terhimpit.
  • Anak-anak muda Bali kesulitan membeli rumah di tanah kelahirannya karena penghasilannya tidak sebanding dengan harga properti yang terus melonjak.

Fenomena penguasaan tanah oleh pihak asing dan non-Bali yang semakin masif, baik melalui hak pakai, nominee, maupun cara-cara tidak langsung lainnya. Dengan tingginya alih kepemilihan tanah kepada pihak luar, maka kehilangan kendali atas tanah menjadi ancaman serius yang dihadapi Pulau Bali.

Di sisi lain, sistem adat yang memperkuat kesakralan tanah mulai kalah oleh logika pasar. Tanah-tanah waris dibagi-bagi, dijual perlahan untuk kebutuhan hidup jangka pendek. Di hari kemenangan Dharma, orang Bali justru menghitung kekalahan atas tanah mereka yang tak kembali.

2.   Kekalahan dari Pemodal Besar Pariwisata

Pariwisata adalah nadi ekonomi Bali, tetapi ironisnya, justru di sektor inilah kekalahan paling telanjang terlihat. Hampir di setiap kawasan pariwisata— yang mendominasi bukanlah pengusaha lokal, melainkan pemodal besar dari luar Bali dan luar negeri.

Hotel berbintang, vila mewah, beach club, restoran besar, bar, hingga jaringan usaha hiburan—sebagian besar dimiliki dan dikendalikan oleh pemilik modal non-Bali. Pengusaha lokal sering kali hanya berada di level: penyedia tenaga kerja, kontraktor kecil, penyedia bahan lokal, atau mitra minoritas dalam struktur kepemilikan bisnis.

Padahal, pariwisata Bali dijual dengan identitas Bali: budaya, alam, tata ruang adat, dan spiritualitasnya. Namun keuntungan terbesar justru mengalir keluar. Orang Bali menjadi penonton dalam panggung pariwisata yang dibangun dari nilai-nilai budaya mereka sendiri.

Inilah salah satu kekalahan paling menyakitkan:
menyaksikan tanah, budaya, dan citra Bali menjadi alat untuk menghasilkan keuntungan besar bagi sektor pariwisata, namun masyarakat lokal tidak berada pada posisi penentu.

3.   Kekalahan dalam Persaingan Ekonomi

Dalam berbagai sektor perekonomian—mulai dari UMKM hingga perusahaan formal—pendatang sering tampil lebih unggul dalam hal intensitas dan kontinuitas kerja. Jam kerja mereka panjang, stabil, dan tidak terganggu oleh banyaknya agenda sosial. Bukan berarti orang Bali tidak bekerja keras. Namun ritme sosial berbeda.

Seorang pendatang yang membuka warung misalnya, mereka bisa membuka warungnya sejak subuh hingga larut malam dan bekerja tanpa jeda panjang. Begitu pula dalam perusahaan formal, pekerja Bali kerap harus mengambil izin untuk menghadiri upacara atau kegiatan adat.

Anekdot lama tentang “Bali banyak hari libur” tidak berdiri di ruang kosong. Ia lahir dari kenyataan bahwa ritme kehidupan masyarakat Bali memang padat oleh kewajiban adat dan agama.

Orang Bali memiliki ritme sosial yang unik dan berat:

  • Tanggung jawab sebagai krama banjar dan desa adat.
  • Rangkaian upacara yang nyaris berlangsung sepanjang tahun.
  • Ngayah, gotong-royong, piodalan berlapis di keluarga dan pura.

Semua ini adalah kekuatan budaya Bali—pilar identitas yang melahirkan harmoni sosial dan menjadi fondasi daya tarik Bali di mata dunia. Namun, ketika ritme adat–agama yang sangat padat ini berhadapan dengan tuntutan ekonomi modern yang menuntut kehadiran tanpa gangguan, fokus penuh, dan kompetisi jam kerja, ketidakseimbangan pun muncul.

4.  Kekalahan dalam Tingkat Kesejahteraan

Sisi paling ironis muncul ketika membandingkan UMR yang sama, tetapi hasil akhirnya berbeda:

Pendatang: → Penghasilan tersimpan untuk tabungan dan investasi.

Orang Bali: → Sebagian penghasilan terserap untuk upacara, adat, banjar, dan kewajiban agama yang tidak sedikit.

Dalam satu sisi, ini adalah bentuk bakti dan dharma. Namun dalam sisi lain, kesejahteraan ekonomi menjadi korban dari tuntutan sosial-budaya. Inilah kekalahan yang tidak pernah disadari, karena dibungkus dengan kata pengabdian.

Coba saja dihitung berapa pengeluaran orang Bali Hindu untuk kegiatan adat dan keagamaan, mulai dari upacara odalan di sanggah/merajan, di pura dadya, pura banjar, hingga kahyangan tiga. Belum lagi upacara otonan, ngaben, dan rangkaian upacara lainnya, yang tentu menghabiskan biaya tidak sedikit.

Laporan terbaru Roy Morgan menunjukkan bahwa 75% pasangan suami istri di Bali memiliki pendapatan ganda untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Fenomena ini mencerminkan bahwa bekerja bagi kedua pasangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan. Hal ini menandakan tekanan finansial yang cukup besar di pulau ini.

5.  Kekalahan dalam Produksi Sarana Upacara

Galungan identik dengan melimpahnya sarana upacara—penjor, canang, penek, hingga puluhan jenis banten yang menggambarkan rasa syukur dan hubungan harmonis manusia dengan alam. Namun di balik keindahan itu, ada kenyataan pahit yang mulai muncul: orang Bali semakin kalah dalam menjaga kemandirian sumber daya upacara.

Beragam sarana upacara yadnya yang dulu sepenuhnya berasal dari hasil bumi lokal kini bergantung pada pasokan luar Bali. Janur (busung, slepan) menjadi bagian penting dalam berbagai upacara yadnya di Pulau Dewata, kini sebagian besar justru berasal dari Pulau Jawa.

Setiap hari, kiriman janur dari Jawa tiba di Pelabuhan Gilimanuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bali. Janur itu nantinya  didistribusikan ke berbagai tempat, mulai dari pasar hingga ke tangan perajin dan umat Hindu Bali yang akan menggunakannya untuk kegiatan upacara yadnya

Tak hanya janur, berbagai bahan sarana upacara lainnya juga dibeli dari luar daerah karena produksi lokal tak lagi mampu memenuhi permintaan yang ada. Seperti kelapa, pisang, dan bunga, bahkan dupa pun dari Jawa. Tak hayal, pasar-pasar tradisional yang dahulu dipenuhi produk lokal kini dikuasai oleh pemasok luar pulau.

Bahkan, proses merangkai sarana upacara, menjadi keterampilan turun-temurun perempuan Bali, kini mulai diambil alih oleh warga non-Bali. Pembuatan ceper, canang, penek, dan sarana lain mulai banyak dilakoni kaum pendatang di tengah hiruk-pikuk orang Bali berupacara yadnya.

Di tengah pelaksanaan Galungan—hari kemenangan Dharma—kita justru melihat sarana yang sakral bergantung pada suplai luar pulau dan ketergantungan ekonomi yang semakin dalam. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi dan budaya, tetapi juga persoalan kerapuhan ekologi.

Saatnya Menghitung Kekalahan untuk Menang Kembali

Galungan bukan hanya perayaan ritual, apalagi sekadar seremonial, tetapi refleksi. Kemenangan Dharma tidak datang otomatis; ia harus diperjuangkan setiap hari.

Menghitung kekalahan bukan untuk meratap, tetapi untuk menyusun strategi kemenangan baru:

  • Menjaga tanah dengan kebijakan adat dan pemerintah daerah.
  • Menguatkan ekonomi lokal berbasis komunitas.
  • Mendorong generasi muda memasuki sektor-sektor strategis.
  • Mencari keseimbangan antara upacara yadnya dan kesejahteraan.
  • Membaca perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar.

Karena kemenangan Dharma bukan hanya simbol tradisi. Ia adalah perjuangan nyata masyarakat Bali mempertahankan martabat, budaya, dan masa depannya di tengah arus perubahan global.

Di hari raya Galungan, ketika penjor berdiri megah sebagai lambang kemakmuran, orang Bali diingatkan untuk eling bahwa Dharma harus diperjuangkan, bukan sekadar diperingati. Perayaan Galungan harus menjadi momen: berhenti sejenak → menghitung kekalahan → bergerak kembali menuju kemenangan yang lebih nyata. (*)

 

Penulis :Raka Prama Putra