Mengapa Penyakit Autoimun Meningkat pada Generasi Milenial dan Gen Z?

Penyakit-Autoimun
Ilustrasi Penyakit Autoimun. Foto : Ist

Oleh: dr. Felly Moelyadi

Dalam beberapa tahun terakhir, dokter semakin sering menemukan pasien dengan penyakit autoimun berusia muda—bahkan di awal 20-an. Kondisi seperti lupus, tiroid autoimun, rheumatoid arthritis, hingga psoriasis kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa generasi milenial dan Gen Z tampak lebih rentan?

Salah satu penyebab utama adalah paparan stres kronis. Generasi muda hidup dalam tekanan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya—mulai dari tuntutan akademik, persaingan kerja, masalah finansial, hingga tekanan media sosial. Stres berkepanjangan membuat sistem imun menjadi “kebingungan”, sehingga tubuh bisa mulai menyerang selnya sendiri.

Selain stres, gaya hidup modern berperan besar. Kurang tidur, pola makan tinggi gula dan makanan olahan, jarang bergerak, serta waktu yang panjang di depan layar dapat memicu peradangan dalam tubuh. Peradangan kronis inilah yang menjadi salah satu pemicu awal munculnya penyakit autoimun. Generasi muda juga lebih sering begadang karena pekerjaan atau hiburan digital, yang pada akhirnya mengganggu metabolisme dan sistem kekebalan

Faktor lain yang semakin mendapat perhatian adalah paparan lingkungan. Polusi udara, bahan kimia dalam produk sehari-hari, hingga mikroplastik diyakini mempengaruhi respons imun. Tubuh yang terus-menerus terpapar “ancaman” dari luar bisa mengalami perubahan pada cara sistem kekebalan bekerja, memicu reaksi berlebihan yang berujung autoimun.

Tak bisa diabaikan juga faktor genetik, meski gen tidak berdiri sendiri. Seseorang mungkin memiliki bakat bawaan mengalami autoimun, tetapi kondisi tersebut baru muncul ketika dipicu oleh stres, infeksi tertentu, atau lingkungan yang kurang sehat. Dengan kata lain, generasi milenial dan Gen Z hidup dalam kondisi yang mempercepat “tombol pemicu” tersebut.

Menariknya, meningkatnya kasus autoimun juga dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang lebih baik.
Kini, orang lebih cepat memeriksakan diri ketika muncul keluhan seperti lelah berkepanjangan, nyeri sendi, atau ruam kulit, sehingga diagnosis pun lebih cepat ditegakkan dibandingkan masa lalu.

Namun, terlepas dari itu semua, penting bagi generasi muda untuk mengenali gejala awal dan melakukan perubahan gaya hidup. Menjaga pola makan seimbang, memperbaiki kualitas tidur, mengelola stres, bergerak lebih banyak, serta meminimalkan paparan polusi dapat membantu menurunkan risiko. Meskipun tidak selalu dapat dicegah, gaya hidup sehat mampu memperlambat atau memperingan perjalanan penyakit. *

TERP HP-01