TABANAN – balinusra.com | Akses jalan lingkar di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) UNESCO Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, mengalami longsor sejak 2019 dan hingga kini belum mendapatkan penanganan. Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas para petani setempat.
Pengelola Jatiluwih, John Ketut Purna, mengungkapkan longsor terjadi di ruas jalan lingkar dari depan Monumen UNESCO menuju kembali ke jalur utama kawasan Jatiluwih. Panjang longsoran mencapai sekitar 35 meter dan menyebabkan terganggunya mobilitas petani, khususnya dalam mengangkut hasil pertanian.
“Longsor ini sudah terjadi sejak tahun 2019. Panjangnya hampir 35 meter dan sangat mengganggu aktivitas petani,” ujar John, sapaanya, dalam Rapat Dengar Pendapat, di Kantor DPRD Bali, Kamis (8/1/2026).
Menurutnya, solusi jangka panjang yang dibutuhkan adalah pembangunan jembatan permanen di lokasi tersebut. Ia mengaku telah meminta perhitungan kepada pihak yang biasa mengerjakan proyek jembatan, dengan estimasi biaya mencapai sekitar Rp4,8 miliar.
“Kami mohon kepada Bapak Wakil Bupati dan Tim Pansus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (TRAP) DPRD Bali, bagaimana caranya agar jembatan ini bisa segera dikerjakan. Perkiraan biayanya sekitar Rp4,8 miliar,” jelasnya.
Selain persoalan infrastruktur jalan, John juga menyoroti isu alih fungsi lahan pertanian di Jatiluwih. Ia menegaskan, perubahan fungsi lahan bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis, melainkan disebabkan oleh kekurangan sumber air yang membuat lahan pertanian berubah menjadi lahan kering.
“Alih fungsi lahan di Jatiluwih bukan karena kepentingan bisnis masyarakat, tetapi karena kekurangan sumber air sehingga lahan pertanian berubah menjadi lahan kering,” katanya.
Ia meyakini permasalahan tersebut dapat diatasi dengan peningkatan debit air melalui pembangunan bendungan kecil. Menurutnya, sumber air di Jatiluwih masih sangat memungkinkan untuk dimaksimalkan hingga dua kali lipat.
“Kalau kita bisa membuat bendungan kecil saja, biayanya tidak mahal, debit air yang masuk ke Jatiluwih bisa meningkat hingga dua kali lipat,” ungkapnya.
John berharap pemerintah daerah dan Tim Pansus TRAP dapat memberikan arahan serta dukungan konkret demi keberlanjutan pertanian dan kelestarian kawasan Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia.
“Saya mohon bantuan dan arahan. Harapan kami, dibuatkan jembatan untuk akses petani dan bendungan,” pungkasnya. Baiq












