Kartini Masa Kini, Tini Gorda Tekankan Perempuan Harus Berdaya dan Mandiri

_DSC98122
Diskusi dalam rangka menyambut Hari Kartini, Jumat (10/4/2026) di UC Silver.

DENPASAR – balinusra.com | Semangat emansipasi perempuan kembali menggema menjelang peringatan Hari Kartini melalui diskusi Arisan gotong royong Teras Ayung bertema “Kartini Masa Kini” di UC Silver Bali, Jumat (10/4/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar peringatan, tetapi juga menjadi ruang refleksi. Para peserta diajak memperkuat peran, keberanian, dan kemandirian perempuan di era modern.

Narasumber, Dr. AAA. Ngurah Tini Rusmini Gorda, menegaskan perempuan masa kini harus aktif di berbagai bidang. Ia menilai emansipasi bukan soal mengalahkan pihak lain, tetapi tentang kontribusi nyata.

Menurutnya, pendidikan menjadi kunci utama. Perempuan bisa berperan dalam keluarga dan pembangunan bangsa melalui kapasitas diri yang kuat.

“Melalui pendidikan, perempuan bisa terlibat aktif untuk keluarga dan bangsa. Setiap zaman melahirkan inovasi dari pemikiran Kartini,” ujarnya.

Selain itu, Tini Gorda mengingatkan pentingnya peran perempuan dalam menghadapi era digital. Ia mendorong perempuan untuk memahami teknologi agar mampu mendampingi anak.

Ia menilai pengawasan dan edukasi harus berjalan beriringan. Dengan begitu, anak tidak mudah terpapar dampak negatif teknologi.“Perempuan harus aware terhadap teknologi. Pendampingan anak perlu terus diedukasi dan diadvokasi,” tegasnya.

Hadapi Patriarki dengan Komunikasi

Di sisi lain, ia mengakui budaya patriarki masih menjadi tantangan. Namun, ia menekankan komunikasi dan pembagian peran sebagai solusi.

Menurutnya, perempuan dan laki-laki perlu saling melengkapi. Dengan keseimbangan peran, perempuan tetap bisa berkembang tanpa hambatan.

Akademisi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) ini juga menyoroti pentingnya pendidikan dan kemandirian ekonomi. Ia menilai dua hal ini memperkuat posisi perempuan, terutama saat menghadapi kekerasan.

“Kalau ingin speak up, perempuan harus punya ilmu. Kemandirian ekonomi juga memperkuat posisi perempuan,” ungkapnya.

Diskusi ini dihadiri berbagai kalangan perempuan dari beragam latar belakang. Kegiatan juga melibatkan penyandang disabilitas dari Yayasan Cahaya Mutiara Ubud sebagai wujud nyata semangat inklusivitas dan kesetaraan.Baiq. Baiq