BMKG Peringatkan Risiko Tsunami di Serangan, Pembangunan Pesisir Bali Harus Dikaji Ulang

IMG-20251030-WA0044-780x470
Soekarno Saputra.

DENPASAR – balinusra.com | Wilayah pesisir selatan Bali, termasuk Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, merupakan kawasan dengan potensi tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami. Risiko ini muncul akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang berinteraksi di selatan Pulau Bali.

Soekarno Saputra, Pranata Muda Geofisika (PMG) Pusat Gempa Bumi BMKG Regional III Denpasar, menjelaskan bahwa berdasarkan peta potensi gempa Pusat Gempa Bumi Nasional tahun 2017, Bali memiliki segmen megathrust aktif yang berpotensi menimbulkan gempa hingga Magnitudo 8,5.

“Kalau dilihat dari potensi tsunami di wilayah Bali, karena zona subduksi itu berada di selatan dan letaknya di laut, maka bisa mengakibatkan tsunami. Dengan magnitudo 8,5, daerah Serangan dan Sanur bisa menghadapi potensi tsunami dengan ketinggian sekitar 6 sampai 10 meter,” kata Soekarno, Rabu (29/10/2025).

Ia menegaskan, kondisi tersebut menjadi alasan penting agar setiap pembangunan di kawasan pesisir rawan seperti Serangan harus dikaji secara menyeluruh dan melibatkan para ahli kebencanaan serta lingkungan.
“Setidaknya, ketika dilakukan pembangunan di daerah yang rawan gempa, perlu dikaji ulang dan melibatkan pakar. Jadi ketika terjadi sesuatu, risikonya bisa diminimalkan,” ujarnya.

Peringatan ini menjadi relevan di tengah munculnya wacana pembangunan di sekitar perairan Serangan. Dari perspektif mitigasi bencana, setiap proyek di kawasan pesisir selatan Bali yang berpotensi terdampak gempa megathrust wajib melalui kajian risiko geologi dan tsunami yang komprehensif, agar tidak menambah kerentanan wilayah.

Serangan saat ini telah memiliki Tempat Evakuasi Sementara (TES) Tsunami dengan ketinggian sekitar 12 meter yang berlokasi di Lapangan Serangan. Selain itu, simulasi gempa dan tsunami rutin dilaksanakan oleh masyarakat, sekolah, serta lembaga kebencanaan guna meningkatkan kesiapsiagaan.

Kepala Pelaksana BPBD Denpasar, I.B. Joni Ariwibawa, menegaskan bahwa Serangan merupakan zona dengan tingkat ancaman tsunami tinggi.
“Di jarak 200 kilometer selatan Bali terjadi pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Jika terjadi gempa megathrust Magnitudo 8,5, tinggi gelombang tsunami bisa mencapai 6 hingga 10 meter,” jelasnya.

Menurut Joni, masyarakat perlu memahami konsep “Golden Time”, yakni waktu sekitar 13–14 menit yang tersedia untuk evakuasi sebelum gelombang tsunami tiba di daratan. Dengan kecepatan 500–600 km/jam, gelombang dapat mencapai pantai Bali kurang dari 30 menit.

BMKG menekankan pentingnya edukasi dan latihan berkala di wilayah pesisir untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Serangan, Sanur, dan kawasan Denpasar Selatan lainnya dinilai sudah memiliki sistem peringatan dini dan jalur evakuasi, namun upaya sosialisasi harus terus diperkuat.

“Kita sudah bekerjasama dengan BPBD dan beberapa instansi terkait, termasuk memasang sistem warning receiver di beberapa titik, agar informasi gempa bisa cepat sampai ke masyarakat,” paparnya.

Dengan kondisi geologi yang rentan, setiap rencana pembangunan di pesisir selatan Bali — termasuk proyek-proyek berskala besar di wilayah perairan Serangan — perlu benar-benar mempertimbangkan aspek kebencanaan dan prinsip kehati-hatian, agar pembangunan tetap sejalan dengan keselamatan dan keberlanjutan lingkungan Bali.