DENPASAR – balinusra.com | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali kini dalam status siaga penuh guna menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Berdasarkan data dari BMKG, kondisi cuaca ekstrem ini berpotensi memicu berbagai bencana mulai dari kekeringan lahan, kebakaran hutan. Hingga gangguan serius pada sektor pertanian di wilayah Bali.
Pemetaan 4 Ancaman Utama Bencana di Bali
BPBD Bali telah memetakan empat ancaman utama yang perlu diwaspadai selama musim kemarau tahun 2026 ini, yaitu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), kekeringan pada lahan pertanian. Serta kebakaran di area pemukiman warga.
Saat ini, terdapat sekitar 200 hektare lahan yang masuk dalam zona potensi karhutla. Selain itu, delapan titik TPA di Bali menjadi fokus pengawasan ketat. Termasuk langkah proaktif berupa pendinginan area guna mencegah munculnya titik api.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Dari total 665 hektare sawah yang dipantau, sekitar 65 hektare di antaranya berpotensi mengalami kekurangan air.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya menjelaskan, langkah pemerintah dalam menangani hal ini.
“Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menyiapkan pompa irigasi serta mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas yang lebih tahan kering guna menekan risiko gagal panen,” terangnya.
Kesiagaan Krisis Air Bersih di 315 Desa
Ancaman krisis air bersih juga membayangi setidaknya 315 desa di Bali, termasuk wilayah di Kabupaten Karangasem. Meskipun hingga saat ini belum ada permintaan resmi untuk bantuan air, BPBD telah menyiapkan armada distribusi.
“Armada mobil tangki air disiagakan apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk melayani daerah yang mengalami krisis air bersih,” kata Agung Teja Bhusana Yadnya.
Selain kekeringan, BPBD mencatat tren kebakaran rumah yang meningkat signifikan, dengan sedikitnya 40 kejadian dalam satu bulan terakhir. Mayoritas terjadi di wilayah Denpasar akibat cuaca panas ekstrem.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, menghindari pembakaran sampah di area rawan. Serta memastikan penggunaan peralatan listrik yang aman di rumah.
“Seluruh elemen masyarakat diharapkan saling menjaga lingkungan dan menggunakan air secara bijak. Kesiapsiagaan menjadi kunci agar risiko bencana selama musim kemarau dapat ditekan. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya. Baiq





