Sambil Rawat Kopi, Petani Perempuan Desa Catur Bali Bersiap Masuk Perdagangan Karbon

Sambil Rawat Kopi, Petani Perempuan Desa Catur Bali Bersiap Masuk Perdagangan Karbon
Founder Heal Bumi, Gilar Prokoso memberikan edikasi tentang perdagangan karbon kepada perempuan petani kopi desa Catur, Kintamani.

BANGLI – balinusra.com | Aktivitas merawat kebun kopi di Desa Catur, Kintamani, kini tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kehidupan rutin bagi para petani setempat. Kegiatan pelestarian lingkungan ini berpeluang besar untuk menghasilkan nilai ekonomi baru yang menjanjikan melalui skema perdagangan karbon.

Peluang emas ini tengah dipersiapkan secara matang dengan melibatkan petani kopi perempuan sebagai salah satu aktor sentral dalam pengelolaan karbon berbasis agroforestri.

Puluhan perempuan petani kopi di Desa Catur telah mendapatkan pembekalan edukasi mengenai konsep karbon. Mulai dari cara menghitung potensi karbon yang diserap tanaman, hingga alur mekanisme perdagangan kredit karbon.

Peningkatan Literasi dan Edukasi Perdagangan Karbon bagi Petani

Edukasi penting ini diberikan melalui program kolaborasi Coop Coffee Foundation bersama Heal Bumi. Tujuannya untuk meningkatkan literasi para petani mengenai seluk-beluk perdagangan karbon.

Bagi kelompok tani perempuan, wacana mengenai perdagangan karbon pada awalnya terdengar sebagai sesuatu yang asing. Bahkan sempat muncul kekhawatiran mengenai bagaimana proses transaksi berjalan, hingga potensi dampak yang mungkin dirasakan oleh para petani di lapangan.

Hal ini diakui langsung oleh Kelian Krama, Istri Desa Adat Catur, Anastiawati. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bersama para petani perempuan lain di Desa Catur awalnya sempat belum memahami konsep tersebut.

“Awalnya kami ibu-ibu di Desa Catur belum paham apa sih perdagangan karbon. Kami hanya menebak-nebak bagaimana cara mengambil hasilnya dan apakah merugikan petani. Semenjak tadi dijelaskan, kami paham,” kata Anastiawati, Jumat (21/8/2026)7.

Setelah mendapatkan sosialisasi dan pemahaman yang komprehensif, sudut pandang para petani pun mulai melihat perdagangan karbon dari perspektif berbeda.

Menurut Anastiawati, skema hijau ini dapat menjadi bentuk penghargaan terhadap petani yang selama ini konsisten menjaga kebun dan lingkungan sekitar.

“Sekarang saya baru paham bahwa perdagangan karbon itu salah satunya bisa menguntungkan kami petani. Jadi selain kita merawat kebun secara organik untuk memaksimalkan karbon, kita juga menjaga lingkungan. Kami dapat imbalan dari karbon yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang ada di kebun kami,” tuturnya.

Transformasi Kebun Kopi Menjadi Sumber Nilai Ekonomi Baru

Wilayah Desa Catur selama ini memang dikenal luas dengan aktivitas pertanian komoditas kopi dan jeruk. Melalui perdagangan karbon, upaya menjaga tanaman serta penerapan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi petani.

Bagi Anastiawati, imbalan dari karbon bukanlah tujuan utama mereka dalam bertani. Namun, skema ini dapat menjadi bonus tambahan atas kerja keras para petani dalam merawat kebun secara berkelanjutan.

Ia bahkan berharap program ini dapat memotivasi para petani untuk mengurangi penggunaan bahan kimia dan beralih ke pertanian organik.

“Mungkin astungkara berdampak positif, karena itu bonus dari kerja keras kami merawat perkebunan. Mungkin ke depannya mengurangi pestisida, insektisida, secara organik kita dapat bonus dari perdagangan karbon. Pasti antusias. Kalau dari saya pribadi, antusias sekali,” katanya.

Harapan tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi perempuan petani di Kintamani. Peran mereka tidak lagi terbatas pada urusan produksi kopi semata. Tetapi juga aktif terlibat dalam memahami dan mengelola potensi ekonomi dari praktik pertanian berkelanjutan.

24 Ribu Hektare Agroforestri Siap Dikembangkan

Founder Heal Bumi, Gilar Prakoso, memaparkan bahwa dasar dari mekanisme perdagangan karbon adalah perhitungan volume karbon dioksida ekuivalen (CO_2e) yang berhasil diserap oleh tanaman. Di mana, setiap satu ton CO_2e yang terserap akan dikonversi menjadi satu kredit karbon4.

Potensi volume kredit karbon yang dihasilkan sangat bergantung pada total luas lahan. Serta metode pengelolaan lahan yang diterapkan oleh petani. Termasuk pertanian regeneratif dan agroforestri.

Gilar juga menjelaskan, rantai perdagangan karbon tidak terjadi secara langsung dari petani kepada pembeli. Tahapannya terstruktur, mulai dari pengelolaan lahan oleh masyarakat, pengumpulan.

Kemudian verifikasi data oleh pihak ketiga sesuai standar yang ditetapkan. Hingga penerbitan kredit karbon dalam sistem registri sebelum akhirnya dapat dibeli oleh korporasi yang ingin mengompensasi emisinya.

“Nilai karbon kredit di bursa dalam negeri mencapai Rp24.000 per 1 ton. Untuk satu hektare area hijau mampu menyerap 3 hingga 5 ton CO2e,” terang Gilar.

Ia menyebutkan bahwa kawasan Kintamani memiliki potensi lahan agroforestri yang sangat luas, mencapai sekitar 24.000 hektare. Namun, lahan yang saat ini dinilai siap dikembangkan untuk skema perdagangan karbon baru sekitar 600 hektare.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa peluang ekspansi dan pengembangan perdagangan karbon berbasis agroforestri di Kintamani masih terbuka sangat lebar.

Peran Sentral Perempuan dalam Menjaga Ekosistem Hijau

Gilar menilai, salah satu keunikan dari pengembangan proyek karbon di Kintamani ini terletak pada keterlibatan aktif kelompok perempuan dalam merawat kebun kopi berwawasan lingkungan.

Salah satu kelompok yang menjadi bagian dari gerakan tersebut adalah Kelompok Tani Arabika Catur, Subak Abian Lalang, Banjar Catur.

Keterlibatan perempuan memegang peranan krusial, Karena aktivitas menjaga kebun dan menerapkan praktik pertanian berkelanjutan selama ini tidak terlepas dari peran mereka dalam keluarga, serta komunitas petani.

Dengan bekal pemahaman mengenai karbon, para petani perempuan ini tidak hanya sekadar menjadi penerima manfaat pasif. Melainkan memiliki pengetahuan untuk memahami bagaimana praktik pertanian mereka dapat menghasilkan nilai ekonomi tambahan.

Pentingnya Pemahaman Petani terhadap Perhitungan Karbon

Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo, menggarisbawahi bahwa edukasi intensif kepada para petani menjadi bagian penting sebelum perdagangan karbon benar-benar berjalan.

Petani tetap perlu memahami bagaimana karbon yang terserap dihitung. Kemudian dikonversi menjadi kredit karbon.

“Petani bertanya, bagaimana perhitungan karbonnya setelah pohonnya ditanam dan semacamnya. Sehingga, kami ajak ibu-ibu di Desa Catur yang sering berkecimpung di bidang penanaman kopi. Lewat proses ini, semoga petani ibu-ibu memperoleh bonus dari pengelolaan karbon ke depannya,” kata Sascha.

Saat ini, tanaman kopi menjadi salah satu komoditas yang mulai diarahkan untuk masuk dalam skema perdagangan karbon tersebut. Bagi perempuan petani di Desa Catur, peluang ini membuka dua tujuan sekaligus. Yakni menjaga kelestarian kebun agar tetap lestari, dan memperoleh nilai tambah atas upaya tersebut.

Pada akhirnya, perdagangan karbon tidak lagi hanya dipandang sebagai transaksi bisnis semata di pasar bursa. Melainkan sebuah peluang emas untuk memberikan ekonomi bagi masyarakat yang konsisten menjaga ekosistem melalui praktik pertanian berkelanjutan. Baiq