DENPASAR – balinusra.com | Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.24 WIB. Hingga pukul 15.00 WIB, gempa tersebut menewaskan 38 orang dan membuat lebih dari 2.000 warga mengungsi secara mandiri.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan pembaruan data tersebut dalam konferensi pers, Sabtu (15/8/2026).
“Sampai dengan pukul 15.00 sore ini terdata ada 38 jiwa yang meninggal dunia. Kemudian dua jiwa luka berat, 11 luka ringan. Kemudian kurang lebih ada 2.000 jiwa yang melaksanakan mengungsi secara mandiri,” kata Suharyanto.
Jalan dan Rumah Warga Rusak
Gempa juga merusak sejumlah infrastruktur dan bangunan di wilayah terdampak. BNPB menemukan beberapa ruas jalan yang tertutup longsor.
“Datanya nanti akan disampaikan secara rinci dan detail dari Kementerian PU,” ujar Suharyanto.
Selain jalan, gempa merusak puluhan rumah warga. Tingkat kerusakannya beragam, mulai dari ringan, sedang, hingga berat.
Petugas masih mendata kerusakan tersebut. Jumlahnya juga masih dapat bertambah seiring proses pendataan di lapangan.
31 Gempa Susulan Terjadi
Suharyanto mengatakan data BMKG mencatat 31 gempa susulan hingga pukul 15.00 WIB.
Sedikitnya empat gempa susulan memiliki magnitudo cukup besar. BMKG mencatat gempa-gempa tersebut sebagai gempa susulan signifikan.
Gempa susulan pertama mencapai M6,2. Gempa terjadi sekitar pukul 05.13 WIB dengan kedalaman 10 kilometer di laut.
Gempa berikutnya mencapai M5,5. Gempa terjadi pada pukul 05.13.53 WIB di koordinat 8,14 Lintang Selatan dan 120,11 Bujur Timur. Pusat gempa juga berada di laut dengan kedalaman 10 kilometer.
Gempa signifikan ketiga mencapai M6,2. Gempa terjadi pada pukul 05.28 WIB dengan kedalaman 10 kilometer.
Sementara itu, gempa susulan signifikan keempat mencapai M5,6. Gempa terjadi pada pukul 05.37 WIB.
Puskesmas dan Rumah Sakit Ikut Terdampak
Gempa turut berdampak pada fasilitas pelayanan kesehatan. Suharyanto mengatakan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melaporkan kerusakan pada sejumlah puskesmas.
Satu rumah sakit di Maumere juga mengalami dampak gempa.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan menemukan dampak gempa pada lima bandara. Namun, gempa tidak merusak landasan pacu atau runway. Kerusakan terjadi pada bangunan terminal.
“Untuk bandara, dari Kementerian Perhubungan ada lima bandara yang terdampak. Tetapi bukan runway yang terdampak rusak. Itu di gedung terminal,” kata Suharyanto.
Pemerintah masih mendata dan menilai tingkat kerusakan akibat gempa. Pendataan mencakup bangunan, fasilitas umum, rumah warga, fasilitas kesehatan, dan terminal bandara. Baiq





