DENPASAR – balinusra.com | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut mulai memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas sektor pertanian di Provinsi Bali. Keberadaan dapur MBG menjadi solusi bagi petani lokal agar hasil panen mereka lebih mudah terserap pasar. Sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bali, I Gede Harja Astawa, menyatakan bahwa program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya fokus pada peningkatan kualitas gizi anak-anak. Tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.
Petani Buleleng Mulai Bergairah Kembali
Menurut Harja Astawa, dampak positif ini sudah mulai terlihat di lapangan, terutama di wilayah yang telah memiliki fasilitas dapur MBG. Salah satu daerah yang menjadi sorotan adalah Kabupaten Buleleng.
“Kami melihat di daerah yang sudah memiliki dapur MBG, khususnya di Kabupaten Buleleng, para petani mulai bergairah kembali menjalankan usaha pertaniannya. Selama ini kendala utama petani adalah pemasaran hasil panen. Dengan adanya MBG, hasil panen menjadi lebih mudah terserap,” katanya, Selasa (14/7/2026), di Kantor DPRD Bali.
Ia mencontohkan komoditas semangka yang seringkali mengalami kendala pemasaran saat masa panen raya. Sebelum program ini berjalan, petani kerap kesulitan menjual hasil bumi mereka sehingga berisiko membusuk. Kini, dapur MBG menyerap hasil tersebut dengan harga yang lebih kompetitif.
Penyerapan Komoditas Lokal dalam Skala Besar
Kebutuhan operasional dapur MBG setiap harinya memerlukan pasokan pangan yang besar dan berkelanjutan. Selain buah-buahan, berbagai komoditas seperti sayuran, telur, dan daging ayam kini mendapatkan pangsa pasar yang pasti.
“Satu dapur rata-rata melayani sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari. Itu berarti ribuan butir telur, daging ayam, sayur, dan buah dibutuhkan setiap hari. Kondisi ini tentu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka pasar bagi produk pertanian dan peternakan lokal,” jelas Gede Harja.
Selain dampak ekonomi, program ini dirasakan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Banyak siswa dari keluarga berpenghasilan rendah kini mendapatkan asupan gizi yang terjamin di sekolah.
“Dengan adanya MBG, pemerintah memastikan setiap siswa memperoleh makanan bergizi saat berada di sekolah. Orang tua juga menjadi lebih tenang karena kebutuhan gizi anaknya telah terpenuhi,” tambahnya.
Tantangan Distribusi dan Pengawasan Program
Meskipun memberikan dampak luas, Harja mengakui bahwa pelaksanaan MBG masih menghadapi sejumlah kendala teknis. Terutama dalam hal distribusi di beberapa wilayah di Bali.
Namun, ia menilai hal tersebut sebagai tantangan yang wajar bagi sebuah program baru. Ia pun mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam mengawasi jalannya program ini.
“Pengawasan itu bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi memastikan jika ada kekurangan dapat segera diperbaiki sehingga program ini semakin baik,” katanya.
Terkait isu nasional mengenai dugaan penyalahgunaan program, Harja menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan penyimpangan di Bali. Namun, ia mendukung tindakan tegas bagi siapa saja yang berani bermain dengan program ini.
“Kami belum menerima pengaduan terkait hal itu. Mudah-mudahan memang tidak terjadi di Bali. Kalau ada yang terbukti menyalahgunakan program ini, tentu harus proses sesuai ketentuan hukum,” tegasnya.
Potensi Ekonomi Ratusan Miliar Rupiah
Ke depan, Bali membutuhkan sekitar 400 dapur MBG agar program ini dapat menjangkau seluruh sekolah dan penerima manfaat secara optimal. Jika target ini tercapai, Astawa memprediksi perputaran uang di Bali akan meningkat tajam melalui penyerapan produk pertanian lokal.
“Kalau 400 dapur beroperasi, uang yang berputar di Bali bisa mencapai ratusan miliar rupiah setiap bulan. Ini akan meningkatkan daya beli masyarakat, membuka lapangan kerja. Sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” pungkas Harja Astawa. Baiq





