DENPASAR – balinusra.com | Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, menetapkan arah baru untuk tahun 2026 dengan memprioritaskan pariwisata berkualitas di atas kuantitas pengunjung. Meskipun menghadapi tantangan ekonomi global, tingkat kunjungan wisatawan ke desa ini tetap stabil.
I Wayan Sumiarsa, Ketua Badan Usaha Desa Penglipuran, menyatakan bahwa pengembangan saat ini lebih menekankan pada pengalaman wisata yang mendalam, dengan tetap menjaga tradisi, adat istiadat, dan kelestarian lingkungan.
Penguatan Lingkungan Melalui Pembangunan TPS3R
Salah satu pilar utama menuju pariwisata berkelanjutan adalah kebersihan. Saat ini, Desa Penglipuran bekerja sama dengan Bank Indonesia tengah membangun Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R).
“Jadi, Bank Indonesia hadir untuk membantu kami bagaimana Penglipuran ini tetap bersih terkait tata cara pengolahan sampah dengan sebaik-baiknya,” kata Wayan Sumiarsa di Denpasar, Senin (22/6/2026).
Progres Pembangunan TPS3R saat ini telah mencapai 75 persen, dengan target operasional tahun 2026. Tujuan pembangunan tersebut untuk emperkuat posisi Penglipuran sebagai desa wisata terbersih dan ramah lingkungan melalui tata cara pengolahan sampah yang modern.
Wisata Edukasi dan Penataan Hutan Bambu
Selain aspek lingkungan, fasilitas wisata juga terus ditingkatkan. Desa Penglipuran membangun relief di kawasan hutan bambu yang berfungsi sebagai ruang edukasi.
Melalui fasilitas ini, wisatawan dapat mempelajari sejarah dan perjalanan transformasi Penglipuran menjadi desa wisata kelas dunia.
Penataan juga dilakukan pada area jogging track di hutan bambu, yang baru-baru ini sukses digunakan untuk acara Fun Run perdana.
Konservasi Budaya dan Insentif bagi Masyarakat
Desa Wisata Penglipuran memastikan dampak ekonomi pariwisata dirasakan langsung oleh warga lokal melalui pelatihan SDM. Hal ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan melalui program bersama Bank Indonesia.
Selain itu, masyarakat menerima bantuan sosial untuk mengonservasi tiga bangunan ikonik, yakni angkul-angkul, dapur, dan bale saka enem. Penggunaan material bambu wajib untuk mempertahankan arsitektur asli Bali.
Dengan sistem ini, wisatawan yang datang secara tidak langsung ikut berkontribusi dalam pendanaan pelestarian budaya desa.
Digitalisasi Pembayaran di Desa Wisata Penglipuran
Menghadapi era modern, Desa Penglipuran telah menerapkan sistem pembayaran digital secara menyeluruh. Wisatawan kini dapat melakukan transaksi menggunakan QRIS, Visa Card dan Master Card.
Digitalisasi ini bertujuan untuk memberikan transparansi, akuntabilitas. Serta kemudahan bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.
Sebagai puncak promosi, Penglipuran Village Festival 2026 akan berlangsung pada 9-11 Juli 2026. Festival tahun ini mengusung tema “Keharmonisan Bumi Penglipuran Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif”.
Hal yang membedakan festival kali ini adalah komitmen terhadap inklusivitas. Para penyandang disabilitas akan diberikan ruang lebih besar untuk tampil dan berpartisipasi dalam pementasan saat pembukaan festival.
“Jadi, nanti pada saat Pembukaan Penglipuran Village Festival, kita akan banyak berikan ruang buat teman-teman dan saudara-saudara kita. Khususnya para penyandang disabilitas untuk melakukan pementasan,” kata Wayan Sumiarsa. Baiq





